07 November 2021, 17:05 WIB

Kemenkes : PCR Masih Jadi Gold Standar


M Iqbal Al Machmudi | Humaniora

AFP
 AFP
Alat tes polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi virus korona melalui sampel dahak, lendir, atau cairan.

JURU Bicara Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menegaskan pemeriksaan RT-PCR masih menjadi gold standard atau standar tertinggi dalam penanganan covid-19. Evalua tarif tes usap RT-PCR dilakukan untuk memastikan masyarakat mendapatkan pemeriksaan sesuai dengan haknya.

"Swab RT-PCR masih menjadi gold standar dalam mendiagnosis kasus Positif covid-19, tidak hanya di Indonesia, namun juga pada level global. Semakin cepat kasus positif ditemukan, semakin cepat dapat dipisahkan dari orang yang sehat, tentunya ini dapat mencegah penyebarluasan virus covid-19 di dalam masyarakat," ujarnya dalam keterangannya, Minggu (7/11).

Siti Nadia menguraikan, kebutuhan akan pemeriksaan RT-PCR didorong oleh peningkatan pemeriksaan spesimen di Indonesia, dimana angka positivity rate di Indonesia saat ini sudah dibawah 0,4% dari standar yang ditetapkan WHO.

Untuk memastikan masyarakat mendapatkan layanan RT-PCR sesuai haknya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sudah melakukan 3 kali evaluasi taruf RT-PCR.

Pertama pada tanggal 5 Oktober 2020 ditetapkan pemeriksaan RT PCR Rp900 ribu. Kedua, pada tanggal 16 Agustus 2021 ditetapkan pemeriksaan RT PCR Rp495 ribu untuk Pulau Jawa dan Bali serta Rp525 ribu untuk diluar pulau Jawa dan Bali. Terakhir pada tanggal 27 Oktober ditetapkan Rp275 ribu untuk Pulau Jawa dan Bali dan Rp300 ribu untuk di Luar Pulau Jawa dan Bali.

Ia menegaskan, dalam menentukan harga RT- PCR, Kementerian Kesehatan (Dirjen Yankes) tidak berdiri sendiri, namun dilakukan bersama dengan BPKP. "Proses evaluasi harga ini tentunya dilakukan untuk menutup masuknya kepentingan bisnis dan menjamin kepastian harga bagi masyarakat,” katanya.

Adapun, perhitungan biaya pengambilan dan pemeriksaan RT-PCR, terdiri dari komponen – komponen jasa pelayanan/SDM, komponen reagen dan bahan habis pakai (BHP), komponen biaya administrasi, Overhead, dan komponen biaya lainnya yang disesuaikan dengan kondisi saat ini.

“Reagen merupakan komponen harga paling besar dalam pemeriksaan swab RT-PCR, mencapai 45-55%” jelas Nadia.

Dirinya menganalogikan tinggi dan langkanya stok masker dan APD di awal pandemi yang juga berpengaruh terhadap harga saat itu. Namun kondisi ini berangsur-angsur membaik dengan semakin bertambahnya produsen masker dan APD seiring berjalannya waktu.

Demikian juga dengan reagen Swab RT-PCR, dimana pada saat awal hanya terdapat kurang dari 30 produsen yang ada di Indonesia. Namun saat ini sudah terdapat lebih dari 200 jenis reagen Swab RT-PCR yang masuk ke Indonesia dan mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan dengan harga yang bervariasi. Artinya sudah terjadi persaingan variasi dan harga untuk komponen reagen Swab RT-PCR, tambahnya lagi. (H-2)

BERITA TERKAIT