31 October 2021, 16:00 WIB

UKBI Menjadi Alat Uji dalam Mengukur Kemahiran Berbahasa


Faustinus Nua | Humaniora

Instagram @balaibahasa.sumut
 Instagram @balaibahasa.sumut
 Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka diikuti secara daring oleh 5.000 pelajar setingkat SMA dan SMK di Sumatra Utara.

BERTEPATAN dengan momentum Hari Sumpah Pemuda ke-93 pada 28 Oktober, Balai Bahasa Provinsi Sumatra Utara, Unit Pelaksana Teknis (UPT) mempersembahkan dua penghargaan prestisius dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Penghargaan pertama diperoleh pada saat pelaksanaan giat Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka yang diikuti secara daring oleh 5.000 pelajar setingkat SMA dan SMK yang tersebar di 18 wilayah cabang Dinas Pendidikan pada 33 kota/kabupaten di Provinsi Sumatra Utara (Sumut). Penghargaan berikutnya diperoleh lewat rekor peserta UKBI terbanyak yang menggunakan busana adat terbanyak.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemedikbud-Ristek)  E Aminudin Aziz, bertekad untuk menyelenggarakan UKBI Adaptif ini secara lebih masif di tahun mendatang.

"Sebagai alat uji, UKBI Adaptif dapat mengukur kemahiran berbahasa dari tingkat terendah sampai dengan tingkat tertinggi," katanya melaui keterangan tertulis, Minggu (31/10).

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatra Utara, Maryanto, menyampaikan bahwa Penghargaan MURI yang diperoleh menjadi bukti konkret pentingnya kehadiran Balai Bahasa Provinsi Sumut. Sebagai UPT Badan Bahasa Kemendikbud-Ristek, Balai Bahasa terus-menerus bergerak bersama dengan pihak pemerintah daerah Provinsi Sumut guna mengusung program besar Kemendikbud-Ristek untuk memajukan bahasa dan sastra di wilayah kerja.

“Momentum tanggal 28 Oktober adalah bukti empiris kebahasaan betapa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dimaksud masih terus memerlukan perjuangan semangat kepemudaan kita semua. UKBI Rekor MURI bolehlah dikatakan sebagai salah satu pemantik semangat juang bagi kita,” kata dia.

Gubernur Sumatra Utara, Edy Rahmayadi mengatakan bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda sangat berarti, terutama dengan adanya momentum pelaksanaan UKBI Adaptif Merdeka yang dilaksanakan oleh pelajar. “Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan sikap positif dalam berbahasa dengan menunjukkan khazanah kebinekaan Indonesia,” ujarnya.

Edy mengatakan, miniatur kebinekaan Indonesia ada di wilayah Sumut. Melalui kegiatan itu, bahasa Indonesia dibuktikan tetap tangguh dan tumbuh mengikat kebinekaan. Demikian tujuan kegiatan gerak serentak giat UKBI itu, selain untuk menyiapkan proposal kembalinya Kongres Bahasa Indonesia (KBI) di Sumatra Utara pada tahun 2023 sebagaimana KBI (yang pertama setelah NKRI lahir) di Medan pada tahun 1954.

“Terima kasih kepada semua pihak, terutama Balai Bahasa dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumut. Saya berharap kegiatan semacam ini dapat sering dilakukan. Semoga pandemi berakhir sehingga kita bisa melakukan kegiatan yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia," ujar Gubernur Edy.

Instrumen UKBI berisi tiga hal kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pengetahuan strategi berbahasa Indonesia antara lain untuk mencari, mengolah, dan menyajikan informasi (ilmu) pengetahuan sesuai dengan konteks situasi dan budaya merupakan persoalan kebahasaan yang diujikan dalam UKBI.

Instrumen ini pun mengujikan keterampilan berbahasa Indonesia secara lisan dan tulis. Keterampilan berbahasa Indonesia lisan diujikan melalui butir-butir soal mendengarkan pada Seksi I dan keterampilan tulisnya melalui butir-butir soal membaca pada Seksi III. Sementara itu, Seksi II (Merespons Kaidah) lebih menekankan soal-soal pengembangan sikap positif-setia, bangga, dan tanggung jawab terhadap kaidah penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Hasil UKBI secara keseluruhan menggambarkan peta kompetensi peserta uji dengan pemeringkatan kemahiran berbahasa Indonesia sebagai berikut. Peringkat I (Istimewa) dengan skor 725-800; II (Sangat Unggul) dengan skor 641-724; III (Unggul) dengan skor 578-640; IV (Madya) dengan skor 482-577; V (Semenjana) dengan skor 405-481; VI (Marginal) dengan skor 326-404; VII (Terbatas) dengan skor 251-325.

Peringkat dan predikat kemahiran itu menunjukkan peserta uji sebagai sumber daya yang potensial untuk menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis, dalam keperluan komunikasi pada ranah sintas, sosial, dan keprofesian, serta akademik. Kendala komunikasi berbahasa pada setiap ranah itu akan mudah teratasi dengan kemahiran yang makin meningkat.

Penggunaan UKBI di masyarakat telah diatur di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 Tahun 2016 tentang Standar Kemahiran Berbahasa Indonesia. Dalam peraturan tersebut, Badan Badan Bahasa diberi tugas untuk menyusun soal, mengembangkan soal, dan memberikan layanan UKBI yang dapat dilakukan melalui ujian berbasis kertas, ujian berbasis jaringan komputer, atau ujian berbasis jaringan internet.(H-2)

BERITA TERKAIT