27 October 2021, 12:53 WIB

Arah Pendidikan Indonesia Bangun Karakter di Tengah Perubahan


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

MI/PERMANA
 MI/PERMANA
Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Imam Budidarmawan Prasodjo.

SOSIOLOG dari Universitas Indonesia (UI) Imam Budidarmawan Prasodjo menilai masalah strategis ke depan dalam bidang pendidikan yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah kembalinya membangun karakter di tengah perubahan, mengingat kini perubahan menjadi sangat cepat.

Semua orang dipaksa untuk beradaptasi pada dunia digital sehingga sektor pendidikan pun harus juga mengikuti perubahan tersebut.

"Pembangunan karakter tentunya sangat berbeda dengan era dulu dan sekarang karena saat ini yang harus dibangun adalah karakter di tengah perubahan," kata Imam saat webinar Hakikat, Tujuan, dan Arah Pendidikan Bangsa Yang Berkemajuan dan Berdaya Saing Sesuai Amanah Konstitusi dan Founding Fathers yang diadakan GWP, Rabu (27/10).

Selain itu dalam upaya membangun karakter sekaligus mampu memperkuat jati diri kebangsaan dalam bingkai solidaritas kemanusiaan yang luhur. Sehingga anak sejak dini sudah terdidik untuk mencintai Tanah Air meski era informasi dari mancanegara bisa diakses dengan mudah.

Setelah itu langkah terobosan model pendidikan yang inklusif, partisipatif, resposif untuk dapat mengatasi masalah sosial yang terjadi yang tidak termakan dengan perubahan digital saat ini.

"Pendidikan partisipatif harus dilakukan ahar anak tidak merasa tersekat oleh tembok-tembok sekolah yang hanya mengkarantina guru-guru yang belum tentu kompeten dan belum tentu anak juga mau," ujarnya.

Sehingga sekolah seharusnya bisa dimana pun dan anak mendapatkan pelajaran dari siapa pun. Seorang guru mungkin saja ilmunya terbatas terkait satu bidang, namun seseorang yang sudah ahli bisa mengajarkan yang tidak dipahami guru.

"Sehingga perlu asanya pendidikan yang responsif yang membuka diri terhadap intervensi siapa saja untuk kebaikan. Agar seluruh masalah pendidikan yang ada bisa diatasi bersama sehingga jangan diserahkan kepada guru atau dosen semata," pungkasnya. (Iam/OL-09)

BERITA TERKAIT