25 October 2021, 16:50 WIB

Sapi Bali Bepeluang Menjadi Ternak Penghasil Daging Premium


M Iqbal Al Machmudi | Humaniora

Youtube IPBTV
 Youtube IPBTV
Layar tangkap Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (23/10).

GURU Besar Tetap Fakultas Peternakan IPB University Prof Dr Rudy Priyanto menjelaskan di antara 8 rumpun sapi lokal, sapi bali memiliki potensi besar menghasilkan kualitas daging yang premium sehingga bisa meningkatkan penjualan dan memenuhi permintaan daging di masyarakat.

Hal itu disampaikan Rudy pada orasi ilmiah yang berjudul potensi dan strategi sapi lokal dengan penghasil daging premium mendukung kemandirian pangan berkelanjutan pada Sabtu (23/10).

Menurutnya, saat ini sapi lokal sulit menghasilkan daging steak kualitas premium berdasarkan karena 70% sapi lokal mengandung darah bos indicus yang menghasilkan daging relatif keras.

"Di antara rumpun sapi lokal, sapi Bali umur 1,5-2,5 tahun yang dapat menghasilkan daging premium dengan tingkat keuntungan dan derajat marbling yang memenuhi standar kualitas USDA choice," kata Rudy dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (23/10).

Ia mengungkapkan bahwa tingkat keempukan pada daging sapi Bali mencapai 3,2/cm dengan marbling 4,7%. Sapi Bali juga dapat menghasilkan daging yang tinggi dengan keunggulan distribusi pada potongan daging kelas satu terutama striploin dan cuberoll yang cocok untuk daging steak.

Oleh karena itu, Rudy berkesimpulan sapi Bali dengan populasi lebih dari 5 juta ekor merupakan sapi asli Indonesia yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ternak penghasil daging premium.

"Ternak ini dapat dibudidayakan secara menguntungkan pada berbagai agroekosistem yang tersebar di berbagai wilayah sentra produksi di Indonesia," ujar Rudy.

Strategi pengembangan sapi Bali sebagai ternak penghasil daging premium harus terintegrasi dari hulu hingga ke hilir yang meliputi pengembangan sentra breeding farm dan petani sapi Bali, pengembangan branding daging sapi Bali premium, standarisasi ternak dan daging, pengembangan niche market, dan dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha budidaya dari hulu hingga distribusi dan pemasarannya di hilir. (H-2)

 

BERITA TERKAIT