23 October 2021, 20:18 WIB

Dari Hasil Penelitian, Ada Perbedaan Nilai Perorangan dan Budaya Bangsa


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
Dies Natalis ke-55 dan Wisuda Sarjana Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 secara daring dan luring yang gelar Sabtu (23/10).

BERDASARKAN hasil penelitian disimpulkan perbedaan antara nilai yang dipegang teguh secara perorangan dan budaya bangsa saat ini.

"Ini mengindikasikan adanya ketidakselarasan antara nilai pribadi warga bangsa dan budaya bangsa yang terbentuk. Hal ini bila tidak terkelola dengan baik, bisa berujung pada berbagai persoalan lanjutan," kata Rektor Universitas Pancasila (UP) Prof. Dr. Edie Toet Hendratno, S.H., M.Si, FCBArb.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Prof.Edi pada Dies Natalis ke-55 dan Wisuda Sarjana Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 secara daring dan luring yang gelar Sabtu (23/10).

Dalam wisuda yang bertema “Indonesia Bangkit Pasca Pandemi Covid-19 Melalui Pengembangan SDM Unggul dan Ekonomi Digital Berlandaskan Nilai Nilai Luhur Pancasila”, Rektur UP memaparkan kesimpulan kedua adalah bahwa beberapa budaya harapan bagi bangsa (nilai masa depan) muncul dalam nilai budaya bangsa saat ini, yaitu gotong royong, demokrasi, dan HAM (hak asasi manusia).

"Ini menjadi modal sosial yang cukup baik untuk mendorong ke pertanyaannya, bagaimana kita memastikan bahwa budaya bangsa yang diidealkan tetapi belum dominan di masa sekarang dapat mulai ditumbuhkan," papar Prof.Edi.

Penjelasan Rektor tersebut didasarkan penelitian terbaru yang bekerja sama dengan Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) pada tahun 2019-2020, menghasilkan bahwa pada nilai budaya bangsa saat ini (current culture).

Dari penelitian, menurut Prof.Edi, ditemukan urutan tertinggi gotong royong, birokrasi atau aturan berbelit-belit, berpegang pada aturan agama, korupsi, keberagaman, demokrasi, diskriminasi SARA, dominasi kaum elite atau golongan atas, berpikir jangka pendek, dan hak asasi manusia.

"Selain itu, tentang nilai budaya bangsa yang diharapkan, ditemukan sesuai urutan tertinggi yaitu adil atau keadilan, keadilan sosial, hak asasi manusia, gotong royong, demokrasi, berpikir jangka panjang, bertanggung jawab, integritas atau kejujuran, kemakmuran, dan hidup yang berkualitas," papar Rektor UP.

Sementara itu, kegiatan Wisuda kali ini dihadiri Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy yang turut menyampaikan orasi ilmiahnya.

Tak hanya itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Gerald Plate dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Agus Setyo Budi, M.Sc. yang telah memberikan sambutannya secara taping video.

Turut hadir Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila (YPPUP) Siswono Yudo Husodo beserta jajarannya.

Dalam pidatonya, Siswono menghatakan kepada wisudawan untuk menanamkan kesadaran dan budaya kerja untuk pencarian ilmu serta pembentukan karakter yang akan dapat menghasilkan kerja keras, ulet, semangat belajar, yang membuat kerja keras anda menjadi berkualitas, efektif, produktif, dan efisien.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UP juga  mengucapkan selamat kepada para wisudawan atas keberhasilan menyelesaikan studinya di Universitas Pancasila.

"Gunakanlah ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan untuk membangun bangsa dan negara, serta aktif berpartisipasi mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan nilai-nilai untuk kemajuan bangsa," tutur Prof.Edi.

 Pada wisuda kali ini, jumlah Wisudawan D3/S1/S2/S3 dan apoteker yang telah diwisuda adalah 1464 orang. Dengan tambahan kelulusan ini, tercatat sejak didirikan pada 28 Oktober 1966 UP telah memiliki 66.945 alumni dari berbagai program studi. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT