22 October 2021, 19:57 WIB

Epidemiolog: Gelombang Ketiga Covid-19 Sebuah Keniscayaan


Ardi Teristi | Humaniora

DOK MI
 DOK MI
Ilustrasi 

GELOMBANG ketiga Covid-19 dinilai sebuah keniscayaan. Kapan akan terjadi dan seberapa tinggi serangan Covid-19 tergantung dengan situasi yang berkembang di masyarakat.

Hal itu diungkapkan epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad dalam siaran Humas UGM, Jumat (22/10). Riris mengatakan, munculnya gelombang Covid-19 ketiga atau gelombang-gelombang berikutnya sangat tergantung pada kondisi di masyarakat.

Menurutnya mobilitas, interaksi sosial, dan kepatuhan dalam  implementasi 3 M yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker di masyarakat merupakan situasi bisa memicu gelombang Covid-19 ketiga nantinya.

Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM ini menyampaikan bahwa virus  Covid-19 masih terus ada dan tidak sedikit orang yang tidak memiliki kekebalan. Sementara, pada orang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19, kekebalan yang didapat akan menurun seiring berjalannya waktu.

"Jadi tidak hanya satu kali gelombang tiga lalu stop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global," terangnya

Riris menambahkan, saat ada varian Delta dengan tingkat penularan lebih tinggi membutuhkan cakupan imunitas yang lebih tinggi dalam populasi. Misalnya, sebelum adanya varian Delta, untuk mendapatkan kekebalan kelompok, sekitar 70% populasi harus sudah divaksin.

Namun, sejak adanya varian Delta, cakupan vaksinasi ditingkatkan menjadi 80%. Kondisi tersebut dengan anggapan bahwa vaksin yang diberikan memiliki efektvitas 100%.

Artinya, vaksinasi di Indonesia untuk bisa mencapai 80% mensyaratkan sekitar 230 juta penduduk harus divaksin. Dalam pelaksanannya, vaksinasi tersebut sebaiknya dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan agar bisa terwujud kekebalan kelompok "Kalaupun sanggup, kekebalan kelompok hanya bertahan  beberapa saat dan akan terus berkurang," ucapnya.

Karena itu, Riris meminta masyarakat untuk tetap waspada dan tidak  lengah. Meskipun saat ini kondisi membaik, tetapi pandemi belum usai. Sebab risiko penularan masih ada, terlebih saat adanya pelonggaran aktivitas di masyarakat.

"Saat penularan tinggi dilakukan intervensi besar-besaran dengan PPKM. Begitu terkendali, aktivitas dilonggarakan karena tidak mungkin terus PPKM karena akan melumpuhkan perekonomian. Namun, pelonggaran ini berisiko penularan akan meningkat lagi," papar dia.

Riris kembali mengimbau, masyarakat tetap patuh menerapkan protokol kesehatan. Sementara itu, pemerintah diminta untuk memperkuat 3T, yakni testing, tracing, dan treatment. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT