20 October 2021, 21:50 WIB

Osteoporosis, Silent Epidemi yang Terabaikan


Zubaedah Hanum | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Ilustrasi

HARI Ostoeporosis Sedunia diperingati setiap 20 Oktober untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit yang menyerang kesehatan tulang pada manusia. Tahun ini, kampanye akan mengusung tema “Take Action For Bone Health” untuk mendorong tindakan pencegahan penyakit ostoeporosis dan patah tulang.

Pasalnya, menurut International Osteoporosis Foundation (IOF), sebuah badan amal non-pemerintah yang berpusat di Nylon, Swiss, deteksi osteoporosis masih minim karena penyakit ini masih dianggap sepele.

Menurut IOF, penyakit osteoporosis saat ini masih kurang terdiagnosis serta kurang diobati karena masih banyak masyarakat yang menganggap remeh penyakit ini. Padahal, sekitar 20% pasien patah tulang osteoporosis meninggal dalam jangka waktu satu tahun.

“Jutaan orang di seluruh dunia mempunyai resiko tinggi mengalami patah tulang (fraktur) tetapi (mereka) tidak menyadarinya,” tulis IOF dalam laman resminya.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan, setidaknya 1 dari 3 serta 1 dari 5 laki-laki berusia lebih dari 50 tahun di seluruh dunia akan mengalami fraktur (patah tulang) karena osteoporosis.
 
Di Indonesia sendiri, menurut penelitian Puslitbang Gizi Kementerian Kesehatan RI, prevelansi angka osteopenia (osteoporosis dini) sebesar 41,7%, sedangkan prevelansi osteoporosis sebesar 10,3%.

“Ini berarti 2 dari 5 penduduk Indonesia memiliki risiko untuk terkena osteoporosis,” tulis Kemenkes RI pada keterangan resminya.

Kemenkes juga menyebut bahwa osteoporosis merupakan “Silent epidemi” karena penyakit yang sering tidak diketahui, dan sering kali tidak ada gejala sampai dengan fraktur pertama.

Oleh karena itu, Kemenkes mengajak masyarakat untuk bisa melakukan 5 langkah agar tulang sehat dan terhindar dari patah tulang, yaitu dengan berolahraga secara teratur, diet sehat yang kaya akan nutrisi, hindari gaya hidup tidak sehat, deteksi dini faktor risiko, dan juga, jika merasa mempunyai risiko tinggi maka segera melakukan pemeriksaan dan pengobatan di Rumah Sakit atau Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Selain itu, mendapatkan sinar matahari yang cukup dapat membantu pembentukan vitamin D. Menurut Kemenkes RI, pengaktifan vitamin D dapat dilakukan dengan berjemur saat pagi sejak terbit sampai jam 09.00 dan sore pada jam 15.00 sampai matahari terbenam. Berjemur dapat dilakukan selama 10 – 15 menit. (*/H-2)

BERITA TERKAIT