19 October 2021, 23:19 WIB

Tenun Tunjukkan Identitas Budaya, Gagasan Hari Tenun Nasional Terus Didorong 


Mediaindonesia.com | Humaniora

Antara/Aprilio Akbar
 Antara/Aprilio Akbar
Perajin merapikan tenun buatannya

INDONESIA merupakan negara yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Menjadikan Indonesia sebagai negara sangat kaya akan seni budaya. Termasuk didalamnya tenun atau songket yang sangat terpengaruh dari adat istiadat setempat, di mana kain tersebut berasal. 

Kerajinan tenun dan songket merupakan salah satu produk tekstil tradisional yang dapat ditemukan di banyak daerah di Indonesia. Masing-masing daerah memiliki ciri khas. Baik dalam teknik pembuatan dan motif yang berbeda-beda, sebagai identitas budaya daerah itu.  

Sejatinya, tenun dan songket bukan hanya selembar kain. Namun, simbol budaya yang adiluhung telah merasuk dalam kehidupan sosial dan mengandung nilai spiritual masyarakatnya. 

Tak hanya corak, motif atau warna berbeda, tetapi filosofi yang melatarbelakangi setiap karya selalu mengikuti keberadaannya. Semua menjadi sebuah identitas bangsa. Begitu pula dengan batik, tenun dan songket merupakan aset dan warisan budaya tak benda leluhur bangsa Indonesia. 

“Di era modernisasi ini secara nyata makin menggerus keberadaan warisan budaya ini. Tak hanya jumlah pengrajin yang semakin sedikit, namun sangat sedikit generasi bangsa ini yang memakainya dalam kehidupan,” kata Anna Mariana, pelopor tenun Indonesia sekaligus Ketua umum Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara (YCBKI), dalam diskusi webinar bertema ‘Tenun Sebagai Benteng Pertahanan Budaya dan Jati Diri Bangsa’ yang digelar oleh Yayasan Budaya Kain Nusantara, dan Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia. 

Selain Anna, acara ini menghadirkan sejumlah pembicara. Di antaranya Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek, dan perwakilan dari Dewan Keraton Nusantara. Termasuk Ketua Umum Dharma Pertiwi & IKKT, istri Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Nanny Hadi Tjahjanto, yang mendukung kegiatan webinar tersebut.  

Adapun, keterlibatan Dharma Pertiwi, harapannya, menjadi momentum imbauan di kalangan anggota Dharma Pertiwi. 

“Hal ini untuk mewajibkan penggunaan tenun dalam kegiatan mereka sebagai awal upaya penggunaan tenun sebagai cara mempertahankan identitas budaya bangsa,” tambah Anna. 

Baca juga : Sekilas Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW

Oleh karena itu, webinar ini ikut memiliki tujuan sebagai awal kegiatan dalam upaya mendorong diresmikannya 7 September sebagai Hari Tenun Nasional. Anna juga mengajak seluruh lapisan masyarakat mengenal budaya tenun nusantara.  

“Serta menjadikan budaya tenun sebagai salah satu sarana untuk mempertahankan identitas budaya dan jati diri bangsa Indonesia,” ungkapnya.  

Diketahui,  Anna dikenal sebagai sosok perempuan Indonesia pelopor Hari Tenun Nasional (HTN).  Ia juga pendiri KTTI bersama Yayasan CBKN, serta Asosiasi Perajin Tenun Songket Indonesia (APTS). Ia mendedikasikan diri dan berjuang untuk menaungi para perajin tenun songket binaannya yang ada di 34 provinsi di Indonesia.  

“Misi gerakan ini adalah mendukung program pemerintah untuk mengurangi pengangguran melalui peningkatan produksi industri ekonomi kreatif. Termasuk pemberdayaan dan pembinaan perajin tenun tradisional Indonesia,” tukasnya.  

Usaha dalam menggagas peringatan HTN terus dilakukan sejak 24 Februari 2019, dengan deklarasi bahwa HTN ditetapkan pada 7 September.  

Anna juga mengimbau agar masyarakat dapat meningkatkan rasa kecintaan pada produk dalam negeri melalui tenun-tenun tradisional Indonesia. 

“Ini karya anak bangsa  yang menjadi  karakter dan jati diri bangsa. Termasuk kebanggaan Indonesia di mata dunia,” tutupnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT