15 October 2021, 17:02 WIB

Pejuang Lingkungan Disabilitas dari Pinrang Raih Penghargaan Kalpataru 2021


Lina Herlina | Humaniora

Foto: Dok. Pribadi
 Foto: Dok. Pribadi
Ali Topa mendapat Penghargaan Khusus Kalpataru 2021 sebagai Pemuda Inspiratif Advokasi Lingkungan dari KLHK. 

ALI Topan, 36, menyebut dirinya sejak masih duduk di bangku sekolah mengengah atas (SMA) sangat peduli terhadap kondisi lingkungan. Terlebih pada pemanfaatan limbah-limbah sampah masyarakat yang sebenarnya bisa dimanfaatkan lagi.

Pria penyandang disabilitas kelahiran 1983 itu mengungkapkan, jika sebelum seperti sekarang ini, dia sudah bergabung di Tagana (Taruna siaga bencana) sejak 2009, sebagai salah satu perjuangan bagi lingkungan di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Karena kegigihannya, Ali Topan pun kemudian mendapat Penghargaan Khusus Kalpataru 2021, sebagai Pemuda Inspiratif Advokasi Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan kepada mereka baik individu maupun kelompok yang dinilai berjasa dalam merintis, mengabdi, serta mengelola lingkungan hidup dan kehutanan.

"Alhamdulillah saya dapat penghargaan khusus untuk advokasi lingkungan, memang belum dapat kalpataru, tapi ini sudah cukup," kata Ali Topan, lewat sambungan telepon, Jumat (15/10).

Di Pinrang, ayah satu anak ini dikenal sebagai orang yang telah melahirkan bank sampah sebagai jawaban atas permasalahan kompleks seputar sampah. Sehingga sampah dapat dijadikan sumber penghasilan dan tidak dipandang sebagai permasalahan.

"Saya ajak teman-teman ketika ada kegiatan lingkungan yang tidak jalan, saya advokasi teman-teman untuk menjalankan. Saya membentuk bank sampah, jadi tugas saya mengajak teman-teman sambil jalan bersama," seru Ali, yang juga Sekretaris Taruna Siaga Bencana Kabupaten Pinrang.

Baginya, keterbatasan fisik, karena kedua kakinya lumpuh, tidak menjadi penghalang, karena itu terjadi sebenarnya tidak dari lahir. Meski menurutnya, kelumpuhan pada kakinya sempat menjadi momok tersendiri, tapi dia bangkit.

"Saya mengalami kecelakaan kerja 2015 lalu, yang membuat kedua kaki saya tidak bisa difungsikan. Itu sempat membuat rasa percaya diri hilang. Tapi saya tidak ingin kekurangan ini menjadi penghalang. Kekurangan itu cuma fisiknya, tetapi gerakan (advokasi) tidak," tukasnya semangat.

Dia menyebut, jika dirinya harus terus mengedukasi warga terkait permasalahan seputar tata kelola sampah, bahwa sampah adalah sumber ekonomi. Jadi, sampah bukan lagi sebagai permasalahan baru, tetapi bisa menghasilkan, sekaligus menjaga lingkungan hidup.

Ali Topan sendiri adalah pengelola Bank Sampah Peduli Pinrang, di Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Bank sampah yang dikelolanya berupa bangunan seukuran 10×20 meter, hibah pemerintah kabupaten Pinrang, sementara tanahnya adalah hibah pinjam warga selama 10 tahun.

Ali juga berharap, meski dengan keterbatas fisiknya, dia bisa memotivasi pemuda-pemudi di Pinrang lainnya untuk senantiasa memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Dia pun bercerita, jika awalnya, dia tidak mendapat perhatian warga, karena dinilai tidak masuk akal. Dia pun berinisiatif memulai dengan mengumpulkan sampah di pesta-pesta perkawinan, dengan meminta agar sampah dipisah dan dikumpulkan di karung-karung.

Untuk membangun kesadaran dan tindakan warga, Ali ternyata punya siasat tersendiri. Ia membangun gerakan yang disebutnya 'Sedekah Sampah'. Melalui gerakan itu diajaklah warga bersedekah dalam bentuk sampah, dengan mengumpulkan sampah di rumah masing-masing yang akan dijemput oleh tim Ali.

Cara tersebut ternyata efektif. warga akhirnya tertarik ketika tahu, sampah bisa disedekahkan.

"Mereka cukup kumpulkan sampah di rumah masing-masing, kami datang membeli. Hasil penjualan sampah ini kemudian digunakan untuk membeli beras dan minyak goreng, lalu dibagikan ke kaum duafa, umumnya orang tua yang tak berpenghasilan. Banyak warga kurang mampu yang terbantu dari gerakan ini,” urai Ali.

Untuk mengampanyekan gerakannya itu, selain door to door, Ali juga aktif menggunakan media sosial.

Saat ini, Bank Sampah Peduli Pinrang yang dikelolanya, sukses melebarkan sayap, dan sudah punya enam unit bank sampah, bahkan, dia berencana mengembangkan aplikasi online transaksi sampah tersendiri.

Jenis sampah yang dibeli di Bank Sampah milik Ali topan adalah kertas, plastik gelas dan botolan. Harganya bervariasi antara Rp.100 – Rp2000/kg. Dan dalam sebulan dia bisa mengumpulkan 300-400 kg sampah.

"Saya mengucapkan terima kasih atas penghargaan ini khususnya kepada teman-teman pejuang lingkungan, dan semua pihak yang ikut membantu saya selama ini. Penghargaan ini bukanlah akhir perjuangan," seru Ali.

Dia juga meminta semua pihak, dan mengingatkan pentingnya kolaborasi khususnya dalam penanganan sampah. “Edukasi dan kerja nyata di bidang lingkungan perlu terus dikembangkan,” pungkasnya. (LN/OL-09)

 

 

BERITA TERKAIT