12 October 2021, 19:06 WIB

Peneliti Ingatkan Air Laut akan Naik Ancam Asia Termasuk Indonesia


Mediaindonesia.com | Humaniora

AFP/STR.
 AFP/STR.
Area banjir setelah hujan deras di Jiexiu di kota Jinzhong di provinsi Shanxi utara Tiongkok, Minggu (10/10).

JIKA umat manusia mampu membatasi pemanasan global pada 1,5 derajat celsius di atas tingkat praindustri, laut akan naik selama berabad-abad yang akan datang. Di dunia yang memanas setengah derajat di atas patokan itu, diperkirakan ada tambahan 200 juta penduduk kota saat ini yang digenangi air laut setinggi lutut dan lebih rentan terhadap gelombang badai yang menghancurkan. 

Para peneliti melaporkan itu dalam Environmental Research Letters, Selasa (12/10). Pukulan terburuk dalam skenario apapun ialah Asia yang menyumbang sembilan dari 10 kota besar dengan risiko tertinggi.

Tanah bagi rumah lebih dari setengah populasi Bangladesh dan Vietnam berada di bawah garis pasang tinggi dalam jangka panjang. Kawasan properti di Tiongkok, India, dan Indonesia juga akan menghadapi kehancuran.

Sebagian besar proyeksi kenaikan permukaan laut dan ancaman yang ditimbulkannya terhadap kota-kota di garis pantai berlangsung hingga akhir abad ini dan berkisar dari setengah meter hingga kurang dari dua kali lipat, tergantung seberapa cepat polusi karbon berkurang.

Baca juga: Suhu Rata-Rata Indonesia Diprediksi Naik 3,7 Derajat Celcius pada 2100

Namun sejatinya lautan akan terus membengkak selama ratusan tahun setelah 2100. Lautan dialiri oleh lapisan es yang mencair, panas yang terperangkap di lautan, dan dinamika air yang memanas. Hal ini tidak peduli seberapa agresif emisi gas rumah kaca diturunkan, temuan menunjukkan.

Bukan jika tapi kapan 

"Kira-kira 5% populasi dunia saat ini tinggal di tanah di bawah tingkat air pasang diperkirakan naik berdasarkan karbon dioksida yang telah ditambahkan aktivitas manusia ke atmosfer," kata penulis utama Ben Strauss, CEO dan kepala ilmuwan Climate Central, kepada AFP.

Konsentrasi CO2 hari ini--yang bertahan selama ratusan tahun--50% lebih tinggi daripada 1800 dan suhu rata-rata permukaan bumi telah meningkat 1,1 derajat celsius. Itu cukup untuk menaikkan permukaan laut hampir dua meter, imbuh Strauss, apakah itu membutuhkan waktu dua atau 10 abad.

Batas pemanasan 1,5C yang diabadikan dalam Perjanjian Paris bahwa negara-negara akan mencoba untuk tetap bermain di KTT iklim COP26 di Glasgow bulan depan diterjemahkan menjadi air laut naik hampir tiga meter dalam jangka panjang. Ini kecuali para insinyur menemukan cara cepat menghilangkan sejumlah besar CO2 dari atmosfer, jumlah kenaikan permukaan laut itu bukan masalah 'jika' tetapi 'kapan', menurut penelitian tersebut.

Baca juga: Banjir Landa Tambang Batu Bara di Tiongkok, 15 Orang Tewas

Itu pun merupakan skenario optimis. "Temuan utama bagi saya yaitu perbedaan mencolok antara dunia 1,5C setelah pengurangan polusi yang tajam versus dunia setelah pemanasan 3C atau 4C," kata Strauss. "Di Glasgow dan selama sisa dekade ini, kami memiliki kesempatan untuk membantu atau mengkhianati seratus generasi yang akan datang."

Mengulur waktu 

Janji pengurangan karbon nasional berdasarkan perjanjian Paris 2015, jika dihormati, masih akan melihat Bumi menghangat 2,7C pada 2100. Jika upaya mengendalikan gas rumah kaca goyah, suhu bisa naik 4C atau lebih di atas tingkat pertengahan abad ke-19.

Pemanasan sebanyak itu akan menambah enam hingga sembilan meter ke lautan global dalam jangka panjang dan memaksa kota-kota yang saat ini berpenduduk hampir satu miliar orang untuk memasang pertahanan besar-besaran terhadap kenaikan permukaan laut di masa depan atau membangun kembali di tempat yang lebih tinggi.

Di Tiongkok saja, tanah yang saat ini dihuni oleh 200 juta orang akan jatuh di bawah air pasang dalam skenario 3C. Ancamannya tidak hanya jangka panjang, tidak adanya tembok laut besar, pemandangan kota Tiongkok yang menampung puluhan juta orang bisa menjadi tidak layak huni dalam waktu 80 tahun.

"Pemanasan 1,5C masih akan menyebabkan kenaikan permukaan laut yang menghancurkan, tetapi alternatif yang lebih panas jauh lebih buruk," kata Strauss. "Kita dalam kondisi buruk, tetapi tidak ada kata terlambat untuk melakukan yang lebih baik dan perbedaan yang bisa kita buat sangat besar."

Baca juga: Badai Terjang Wilayah Filipina, Sembilan Orang Tewas

Membatasi pemanasan global serendah mungkin juga memberi kita waktu untuk beradaptasi. "Hampir dapat dipastikan bahwa air laut akan naik lebih lambat di dunia yang lebih hangat 1,5C atau 2C," kata Strauss. Para peneliti dari Universitas Princeton dan Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim di Jerman berkontribusi dalam penelitian ini. (OL-14)

BERITA TERKAIT