05 October 2021, 18:02 WIB

Peredaran Parasetamol Harus Dibatasi agar tidak Cemari Lingkungan


Atalya Puspa | Humaniora

MI/Liliek Dharmawan.
 MI/Liliek Dharmawan.
Ilustrasi.

PEMERINTAH sudah seharusnya mengendalikan peredaran parasetamol di masyarakat, seperti yang dilakukan di banyak negara maju. Hal itu dilakukan untuk merespon temuan kandungan parasetamol di Teluk Jakarta.

Peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Etty Riani menyampaikan hal itu, Selasa (5/10). Meskipun belum ditemukan hasil penelitian yang komprehensif mengenai pengaruh kandungan parasetamol yang terkandung dalam perairan, tetapi bukan berarti kejadian tersebut bisa disepelekan.

"Ini harus dilakukan pengelolaan. Sadarkan seluruh lapisan masyarakat bahwa tidak boleh konsumsi obat sembarangan sebelum melakukan konsultasi ke dokter," kata Etty dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (5/10).

"Tinjau peredaran dan penjualan obat. Parasetamol harus dibatasi peredarannya. Ubah paradigma masyarakat yang ingin serbainstan," imbuh dia.

Ia mengungkapkan, penggunaan parasetamol dalam dosis normal memang akan memberikan manfaat untuk meredakan nyeri dan demam. Namun demikian, permasalahan yang muncul saat ini ialah peredaran bebas parasetamol di tengah masyarakat sehingga sering kali penggunaannya dengan dosis yang tidak semestinya.

"Selama ini parasetamol dijual bebas. Masyarakat bebas mengonsumsi tanpa resep dokter. Di warung mana pun, mengonsumsi parasetamol sama seperti membeli permen," kata Etty.

Ia mengingatkan, meskipun obat tersebut ringan, tetapi masyarakat harus tetap mengingat bahwa mengonsumsinya tanpa anjuran dokter bisa sangat membahayakan bagi tubuh. "Ketidaktahuan masyarakat yang abai dan ingin instan. Akhirnya konsumsi parasetamol meningkat dari waktu ke waktu," ujar dia.

Baca juga: Soal Parasetamol di Teluk Jakarta, KLHK Mau Panggil 27 Perusahaan Farmasi

Jika kandungan parasetamol terus menerus masuk ke organ tubuh manusia dan makhluk hidup lain, ini akan menyebabkan kerusakan pada hati, pencernaan, dan ginjal. "Yang penting masyarakat jangan abai. Kita sebaiknya melakukan sosialisasi kontinu bahwa obat ini racun yang bisa menjadi emerging polutan. Untuk penggunaannya harus tanya pada ahli dan kita harus membatasi penggunaan parasetamol," pungkas dia. (OL-14)

BERITA TERKAIT