05 October 2021, 10:16 WIB

Ramuan Herbal Bisa Meredam Gejala Covid-19


Atalya Puspa | Humaniora

ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA
 ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA
Salah satu bahan herbal khas Indonesia

DEKAN Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Mahdi Jufri menyebut Indonesia memiliki potensi herbal yang dapat dimanfaatkan untuk meredam keganasan covid-19.

"Seperti misalnya jahe merah dan sambiloto. Bahkan, terakhir, sambiloto di Thailand sudah dilakukan uji klinis ternyata hasilnya memberikan harapan untuk perbaikan klinis bagi penderita covid-19,” ujar Mahdi dikutip dari laman Universitas Indonesia, Selasa (5/10).

Beberapa ramuan yang bisa digunakan untuk meringankan gejala covid-19 serta menjaga daya tahan tubuh antara lain gabungan antara jahe merah dua ruas jari, jeruk nipis satu buah, kayu manis tiga jari, gula merah secukupnya, dan air tiga cangkir.

Guru Besar Program Studi Farmasi FIKES Universitas Esa Unggul Aprilita Rina Yanti mengungkapkan formula pertama tersebut dapat digunakan untuk menghangatkan tubuh hingga membantu meredakan nyeri.

"Lalu formula selanjutnya terdiri dari kunyit satu ruas jari, lengkuas satu ruas jari, jeruk nipis satu buah, gula merah secukupnya, dan air sebanyak tiga cangkir. Formula ini berguna sebagai immunomodulator dan memodulasi respon imun," beber dia.

Ia menegaskan, dalam penggunaan jamu untuk penanganan covid-19, terdapat empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, keamanan produk harus sudah terjamin. Meskipun jamu sudah digunakan sejak lama, tetapi belum ada bukti penggunaan jamu untuk pasien covid-19 aman.

"Oleh karena itu penggunaan jamu hanya berfokus untuk menghilangkan gejala saja sehingga harus tetap ditambah dengan obat konvensional," imbuh Aprilita.

Baca juga:  BPOM: Peluang Jamu Nusantara Terkendala Bukti Empiris

Kedua, bukti keamanan dan khasiat jamu harus diperoleh berdasarkan uji klinis. Ketiga, efek farmakologi obat herbal dan jamu secara molekular belum diketahui secara pasti.

"Data yang tersedia saat ini masih sebatas in silico atau pengujian berbasis komputer," ucapnya.

Terakhir, jamu dan obat-obatan herbal secara umum tidak boleh digunakan dalam kondisi darurat, termasuk pada fase akut infeksi virus.

Pada kesempatan tersebut, Dosen FFUI Fadlina Chany Saputri mengungkapkan penggunaan suplemen baik konvensional maupun herbal hanya bersifat suporting tetapi juga penting karena berkaitan langsung dengan sistem imun.

"Sistem imun manusia sangat bergantung terhadap masukan nutrisi sehingga jika nutrisi yang didapat tubuh kurang maka akan menurunkan efektivitas sistem imun sehingga menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi," ungkap dia.

Ia melanjutkan, untuk mempersiapkan sistem imun jikalau terdapat patogen yang masuk sehingga menyebabkan penyakit maka kebutuhan nutrisi harus dipenuhi tiap saat. Dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut, penggunaan suplemen berupa vitamin dan mineral akan sangat membantu.

“Ini sangat perlu bagi kita untuk mempersiapkan tubuh kita dengan supporting agent berupa vitamin dan mineral untuk memberikan feeding untuk sistem imun kita, sehingga kalau ternyata takdirnya kita kena tidak menjadi berat, kalau muncul gejala pun itu ringan,” jelas Fadlina.

Fadlina menyatakan, penderita covid-19 dengan gejala ringan sebetulnya tidak membutuhkan antivirus. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan suplemen dan obat herbal akan cukup untuk membantu sistem imun tubuh mengatasi infeksi. Suplemen yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi juga tidak harus berupa suplemen konvensional seperti yang banyak dipasarkan.

"Bisa juga melalui buah-buahan dan sayur-sayuran yang dikonsumsi secara cukup. Jika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi dengan baik maka ada konsekuensinya bagi tubuh. Sebagai contoh, jika kekurangan vitamin A maka sistem imun akan rentan terhadap masuknya patogen ke dalam tubuh," pungkas dia.(OL-5)

BERITA TERKAIT