04 October 2021, 23:40 WIB

PTM Terbatas, Menkes: Sekolah Harus Tutup Jika Positivity Rate di Atas 5%


Fetry Wuryasti | Humaniora

Media Indonesia/M Irfan
 Media Indonesia/M Irfan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku terus mengawal pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang sudah dimulai pada hari ini, berbasiskan pedoman epidemiologi.

Menurut Menkes, jika ditemukan sekolah yang memiliki angka positif (positivity rate) di atas 5%, sekolah itu harus ditutup selama dua minggu.

"Kemenkes sudah menentukan bila positivity rate dari satu sekolah ada di atas 5%, maka sekolah diminta tutup selama dua minggu, sembari memperbaiki protokol kesehatannya,"  kata Budi, dalam konferensi pers update Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Senin (4/10).

Bila positivity rate antara 1%-5%, lanjut Menkes, kelas yang terdapat kasus positif harus karantina. Sedangkan lainnya bsia tetap belajar tatap muka.

"Dan bila positivity rate di bawah 1%, akan digunakan metode surveillance yaitu yang terkonfirmasi dan kontak eratnya dikarantina," tegasnya.

Ia berharap dengan menjalankan disiplin seperti ini, Kemenkes bisa mengidentifikasi secara dini bila terjadi pelajar yang positif. "Dan tidak perlu menunggu sampai kasus menjadi besar dan menutup seluruh kota," sergahnya.

Menurutnya, pedoman itu menjadi bagian dari strategi active surveillance untuk sekolah-sekolah yang melaksanakan PTM terbatas saat ini.

"Dengan prinsip sebesar 10% dari sekolah yang melakukan tatap muka di kabupaten kota, maka akan dilakukan random surveillance. Dari situ dibagi proporsi ke kecamatan-kecamatan yang ada di kabupaten kota, dan diambil 30 sample untuk dan 30 sample untuk guru," urainya.

Menurut Menkes, strategi active surveillance ini sudah dilakukan pekan lalu di Jakarta. Sebagai hasilnya, imbuh Budi, masih ditemukan adanya positivity rate dari pelajar-pelajar dari sekolah-sekolah di Jakarta. (H-2)

 

BERITA TERKAIT