27 September 2021, 10:40 WIB

Tumbuh Kembang Anak di masa Pandemi Butuh Peran Maksimal Ortu


Muhamad Fauzi | Humaniora

MI/Susanto
 MI/Susanto
Ilustrsi: Tumbuh kembang anak dimasa pamdemi membutuhkan peran maksimal orangtua.

ERA pandemi Covid-19 menuntut orangtua (ortu) kreatif dalam mendidik dan menjaga tumbuh kembang anak. Ortu harus mampu mengantarkan anaknya menuju proses pendewasaanya menjadi generasi dan pribadi-pribadi yang SMART. Yakni Sehat, Mandiri, Akhlak Mulia, dan Terampil.

Agar peluang besar ke arah harapan itu tercapai, maka setiap orangtua, terlebih para orangtua muda, harus membekali diri dengan pemahaman dan praktik ilmu keayahbundaan (parenting) yang baik dan benar.

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nasional (JARANAN) Nanang Djamaludin menyampaikan hal itu pada Webinar “Mengawal Tumbuhnya Generasi SMART (Sehat, Mandiri, Akhlak mulia, Riang, dan Trampil) dalam Keluarga di Masa Pandemi”, kemarin.

Webinar kerjasama Taman Literasi Jaranan (Tali Jaranan) dan Gigi.id itu dalam rangka peringatan Hari Gigi Nasional 2021 bertema “Sejuta Senyum Indonesia”, sekaligus dukungan terhadap kampanye melawan Pandemi Covid 19.

Disebutkan Nanang, yang juga konsultan keayahbundaan dan perlindungan anak itu, bahwa landasan sekaligus panduan praktik keayahbundaan yang perlu diterapkan secara utuh oleh para orangtua terhadap anak-anaknya haruslah bersubstansikan SMART CHILDREN.

Menurutnya, SMART CHILDREN sebagai landasan praktik ilmu keayahbundaan merupakan akronim dari spiritual values, method of scientific, attending, responsive, transformative, collaborative, humanist, inspitative, liberative, democratic, reflective, emphaty, dan natural.

Diuraikan masing-masing landasan ilmu keayahbundaan itu dan keterkaitan substansinya satu dengan yang lain.

“Dalam konteks spiritual value, ajaran agama yang ada sesungguhnya memiliki mutiara-mutiara inspirasi terkait pengasuhan dan pendidikan anak oleh keluarga. Dalam Islam, misalnya, anjuran kepada para Ibu untuk memberikan ASI Eksklusif pada anaknya, jauh lebih dahulu muncul ribuan tahun yang lalu ketimbang anjuran WHO tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif yang muncul baru beberapa dekade yang lalu,” jelasnya.

Menurutnya, para orangtua juga perlu melengkapi diri dengan pemahaman mengenai beragam penemuan berbasis metode ilmiah terkait pengasuhan dan pendidikan anak, yang perkembangannya demikian dasyat sejak beberapa dekade terakhir ini.

“Seperti tergesernya paradigma kecerdasan tunggal IQ oleh paradigma baru tentang kecerdasan majemuk (multiple intligence) yang jauh lebih menghargai beragam potensi kecerdasan setiap anak. Tapi sialnya, meskipun paradigma kecerdasan tunggal IQ telah banyak terbukti menyesatkan, ternyata di Indonesia masih terasa kuat pengagung-agungan terhadapnya di tengah masyarakat, tak terkecuali di dunia pendidikan formal,” jelasnya lagi.

Begitu juga, lanjutnya, perkembangan di ranah neurosains, terkait bagaimana sebuah proses pembelajaran berlangsung ditingkatan sel-sel otak. Yang dari perkembangan di ranah neurosains itu membuka peluang bagi para orangtua, terkait pendekatan yang bisa dilakukan terhadap anak-anaknya agar proses pembelajar di dalam otak sang anak berlangsung efektif.

Pembicara lain adalah Drg Pramadita Allia, praktisi oral health, dan Drg Valdy Hartono. Pramadita menjelaskan dengan gamblang tentang cara-cara untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut bagi anak-anak dan orang dewasa.

Sementara Valdy menyampaikan, informasi terkait keberadaan dan penggunaan aplikasi layanan konsultasi kesehatan gigi dan mulut, gigi.id yang mudah diakses, terlebih di masa pandemi ini. Acara berlangsung menarik dengan beragam hadiah bagi para peserta. (OL-13)

Baca Juga: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Diharapkan Temukan Variabel Aman untuk PTM

BERITA TERKAIT