23 September 2021, 16:01 WIB

Kendalikan Efek Gas Rumah Kaca, RI Perbarui Dokumen NDC


Atalya Puspa | Humaniora

Antara
 Antara
Deretan gedung bertingkat terlihat dari kawasan Setiabudi, Jakarta.

INDONESIA melakukan pembaruan terhadap dokumen nationally determined contribution (NDC) dan LTS-LCCR 2050 yang telah dimasukkan pemerintah pada 22 Juli 2021 lalu. 

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengungkapkan update pada dokumen tersebut membuktikan tingginya komitmen pemerintah dalam mengelola lingkungan hidup.

"Pada dokumen updated NDC, menunjukan peningkatan komitmen Indonesia melalui program strategi dan tindakan dalam elemen mitigasi, adaptasi, kerangka, trasnparansi dan dukungan implementasi," jelas Siti, Kamis (23/9).

Baca juga: Perubahan Iklim Berpotensi Picu Migrasi Internal 216 juta Orang

Adapun pada dokumen update LTS-LCCR 2050, diarahkan pula mengenai visi Indonesia dalam jangka panjang. Tujuannya, mencapai keseimbangan pengurangan efek gas rumah kaca di masa depan dengan pembangunan ekonomi.

Sejumlah strategi yang disusun dalam dua dokumen tersebut, jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, berpotensi mengurangi kerugian PDB nasional lebih dari 3,45% akibat perubahan iklim pada 2050. Pasalnya, perubahan iklim akan meningkatkan kejadian bencana dan menyebabkan kerugian negara.

"Pada 2015, tercatat 1.654 kejadian bencana dan naik menjadi 4.650 kejadian pada 2020. Dengan kondisi ini, BKF memperkirakan terjadi kerugian pada 2050 sebesar 1,4% dari PDB saat ini," papar Siti.

Baca juga: ESDM Optimistis PLTS Atap Mampu Kalahkan PLTU pada 2028

Menurutnya, diperlukan langkah ambisus untuk mengendalikan perubahan iklim dan suhu bumi. "Indonesia bisa mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Dengan peningkatan kapasitas, kerja sama teknologi riset, peningkatan perdagangan, investasi rendah GRK dan infrastruktur yang tahan perubahan iklim," tukasnya.

Direktur Jenderal Pengendalian dan Perubahan Iklim KLHK Laksmi Dewanthi menjelaskan pada pembaruan dokumen NDC, target yang ditetapkan masih sama, yakni penurunan emisi gas rumah kaca 29% dengan upaya sendiri. Lalu, penurunan emisi 41% dengan dukungan internasional.

Namun, dengan berbagai perkembangan, dilakukan penyesuaian dalam hal ambisi implementasi, komitmen terkait elemen adaptasi, transparansi, hingga aksi mitigasi. "Kita perlu lakukan semua aksi mitigasi dan adaptasi secara akuntabel dan trasnparan. Ini bagian dari tanggung jawab sebuah komitmen," kata Laksmi.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT