21 September 2021, 22:10 WIB

Zoom Dysmorphia Bikin Penderitanya Kurang Percaya Diri


Mediaindonesia.com | Humaniora

DOK Pribadi.
 DOK Pribadi.
Lanny Juniarti.

GELOMBANG informasi melalui platform digital yang masif serta derasnya unggahan foto dan video di media sosial yang selalu menampilkan standar kecantikan tertentu membuat para wanita ingin mengikuti standar tersebut. Standar kecantikan yang tidak mampu diraih membuat krisis kepercayaan diri pada mereka.

Apalagi di masa pandemi sebagian besar kegiatan yang biasanya dilakukan secara offline beralih ke format daring. Orang bertemu dengan rekan kerja, keluarga, maupun teman secara virtual dengan menggunakan platform telekonferensi. 

Founder dan President Director Miracle Aesthetic Clinic Group, Lanny Juniarti, mengungkapkan studi yang dirilis International Journal of Women's Dermatology bahwa kegiatan tersebut bisa memicu gangguan kesehatan mental. Dalam studi tersebut fenomena ini disebut dengan Zoom Dysmorphia yang membuat penderitanya menjadi kurang percaya diri. Istilah ini tidak hanya ditujukan pada pengguna Zoom saja tetapi juga pada pengguna platform telekonferensi lain, termasuk video call.

"Zoom Dysmorphia merupakan suatu kondisi seseorang mudah cemas dan khawatir penampilan fisik aslinya di dunia nyata akan berbeda dengan tampilan di dunia virtual," ujar Lanny dalam 25th Years Miraculous Celebration yang digelar secara virtual pada Selasa (21/9). Rasa tidak percaya diri ini berasal dari seringnya penggunaan platform video call serta pemanfaatan filter di platform tersebut untuk memoles tampilan wajah sendiri supaya enak dipandang oleh lawan bicara. 

Para peneliti tersebut mengungkapkan bahwa durasi waktu yang meningkat untuk melakukan konferensi video, menggunakan media sosial, dan menggunakan filter pada platform video call selama pandemi bisa berdampak terhadap memburuknya persepsi akan diri sendiri. Dampak lain, para wanita tidak benar-benar mengetahui yang diinginkannya, memanfaatkan filter secara berlebihan, serta hanya meniru tampilan orang lain yang dirasa sesuai standar kecantikan tertentu yang diinginkan. Padahal tanpa disadari hal tersebut malah membuat dirinya semakin tidak percaya diri.

Oleh sebab itu, Miracle mengajak wanita Indonesia untuk percaya diri dan berani menampilkan kecantikan individualnya, yaitu tampil dengan versi terbaiknya tanpa meniru atau menjadi seperti orang lain melalui kampanye yang bertajuk #BeBraveToBeYou. "Merawat kulit wajah merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Memiliki kulit yang terawat bisa membuat diri kita merasa lebih nyaman yang nanti berdampak juga ke kehidupan kita. Hal ini juga mencerminkan bahwa kita menghargai diri kita. Saat kita sendiri sudah merasa nyaman dengan diri kita, maka kita bisa lebih mudah membuat orang lain di sekitar kita lebih nyaman," ulasnya.

Dalam campaign #BeBraveToBeYou Miracle menokohkan sosok perempuan bernama Ajeng, seorang model yang karirnya sempat terhenti karena dalam fase kehidupannya menjadi seorang ibu. Ajeng tak menyangka fase menjadi seorang ibu telah membawa perubahan pada tampilan fisiknya yang menyebabkan ketidakyamanan dan perlahan ia kehilangan rasa percaya dirinya. Namun, kecintaannya terhadap dunia modeling membuatnya yakin untuk mengembalikan rasa kepercayaan dirinya.

Ajeng tahu yang sebenarnya diinginkan, yaitu ingin kembali percaya diri dan merasa nyaman dengan dirinya tanpa harus meniru atau menjadi seperti orang lain. Melalui self-care di Miracle, kini ia berani tampil percaya diri dengan versi terbaiknya. Dengan metode facial architecture yang didukung dengan teknologi perawatan terkini serta pengalaman lebih dari 25 tahun di industri kecantikan, Miracle membantu Ajeng untuk memancarkan keunikan dan kekhasan dirinya. 

Wanita yang memiliki kulit sawo matang itu tidak ingin merubah warna kulitnya sesuai standar kecantikan tertentu yang banyak ia lihat di media sosial. Ia lebih percaya diri menampilkan keeksotisan kulitnya, dengan tampilan wajah yang lebih atraktif dan tampak natural. Baginya kecantikan bukan tentang tampil sempurna, tetapi tentang versi terbaik dari dirinya. Kenyamanan yang ia rasakan sekarang merupakan bentuk apresiasi merayakan keunikan dirinya dan sebagai seorang model ia berani menampilkannya.

Lalu mengapa kenyamanan tersebut bisa didapatkan kembali oleh Ajeng? Selain karena ia tahu yang benar-benar ia inginkan, ternyata bisa meluangkan waktu merawat kesehatan kulit wajah sangat membantu kita untuk mengurangi stres yang dirasakan. "Ada efek relaksasi tersendiri yang bisa kita dapatkan saat merawat diri, terutama di tengah pandemi yang meresahkan dan mencemaskan seperti saat ini. Meluangkan waktu sendiri mempercantik diri pun menjadi semacam terapi yang membantu kita berpikir dengan lebih jernih. Menurut penelitian yang diterbitkan pada Januari 2018 di Frontiers in Psychology, melakukan kegiatan positif seperti merawat kulit terbukti mampu mengaktifkan area tertentu di korteks prefrontal yaitu area pada otak manusia yang berkaitan dengan perasaan bahagia," papar Lanny. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT