17 September 2021, 04:23 WIB

Industri Aviasi terus Berkembang, Gelar Pendidikan Tinggi Penting bagi Pilot


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Diskusi virtual tentang kerja sama USG dan Flybest

DUNIA penerbangan tidak hanya terbatas dengan pesawat dan pilot saja, dalam kegiatan penerbangan ada ribuan tenaga kerja yang bekerja di belakang layar untuk kelancaran ekosistem industri tersebut, seperti mengatur lalu lintas udara hingga memprioritaskan keselamatan, melakukan manajemen keuangan, manajemen ekspansi bisnis dan bidang lainnya yang membutuhkan pengetahuan dan tenaga handal dibidangnya.

Terkait dengan hal tersebut diperlukan satu terobosan yang mumpuni untuk dapat memajukan dan mensinergikan kompetensi Indonesia untuk menghadirkan sumber daya unggul di bidang penerbangan. Terlebih dalam menghadapi kondisi Zona Perdagangan Bebas (ASEAN Free Trade Zone). 

Saat ini negara-negara tetangga Indonesia seperti Singapura sudah menerapkan bahwa pilot harus memiliki gelar pendidikan formal jenjang Sarjana sebagai syarat menjadi Airline Pilot. Kondisi zona perdagangan bebas ini tentunya akan menjadi tantangan bagi para pilot Indonesia kedepan dalam berkompetisi dengan pilot-pilot asing lainnya. 

Salah satu inisiatif terobosan pendidikan telah dilakukan oleh USG Education (melalui program bisnis UIC College & UBS) bersama FlyBest Flight Academy, kolaborasi dua institusi ini telah ini luncurkan konsep baru pendidikan untuk Pilot yaitu Pilotpreneur dengan tujuan menyiapkan Future Pilots with Entrepreneurial Mindset. 

Program Pilotpreneur yang ditawarkan USG dan FlyBest terdiri dari tiga jalur studi; program pertama adalah untuk Calon Pilot (Cadet) melalui program Pilot License Program dan Bachelor of Business (Aviation). Dengan durasi belajar 3.5 tahun, siswa yang mengambil program ini akan mendapatkan Airline Pilot License (Commercial Pilot License) dan Gelar Sarjana (S1) dalam bidang Manajemen jurusan Bisnis Penerbangan dari STIE UniSadhuGuna selain itu siswa juga mendapatkan BTEC Level 7 Extended Diploma dari Pearson UK.  

Setelah itu siswa bisa meraih Bachelor of Arts (Honours) dibidang Enterprise and innovation dari Teesside University UK dan dapat melanjutkan sampai ke jenjang Magister.

Program kedua adalah untuk Professional Pilot yang ingin meningkatkan ijin terbang ke Air Transport License (ATPL) dan mendapatkan Gelar Sarjana (S1) dalam bidang Manajemen jurusan Bisnis Penerbangan atau Bachelor of Arts (Honours) Enterprise and innovation guna menunjang karir mereka di dunia penerbangan masa depan. 

Program yang ketiga adalah Executive Development Program yang dikhususkan untuk Kapten Pilot yang ingin mendapatkan gelar Master of Science (International Management) dari Teesside University UK dalam waktu 1 tahun, sehingga dapat di pergunakan untuk modal bekerja di manajerial tingkat tinggi di industri penerbangan baik manajemen penerbangan atapun bandara. 

Board of Advisors to General Chairman INACA (Indonesia National Air Carriers Association) , Dharmadi mengatakan, seorang pilot harus bisa menjadi pemimpin yang terampil, pengambil keputusan yang tepat dan mengelola sumber daya manusia dengan baik, dengan gelar sarjana dan wawasan manajerial tentang pengelolaan bandara dan industri penerbangan, Pilot dapat mengembangkan karirnya menempati posisi-posisi di darat. 

"Terutama pada saat sudah mencapai usia tidak produktif terbang, para pilot dengan gelar Sarjana Tinggi dapat berkarya di manajemen penerbangan, sehingga jenjang karirnya lebih panjang” kata Dharmadi yang juga CEO PT Aviasi Solusi Prima. 

Mendapatkan Pilot dengan kapasitas S1 juga memberikan keuntungan bagi maskapai penerbangan dan pelaku industri karena lulusan tersebut memiliki tingkat kedewasaan yang lebih matang dan wawasan yang lebih luas, hal ini berkaitan juga dengan keamanan dan psikologis dalam membawa pesawat yang menjadi satu konsiderasi utama. 

Dharmadi menambahkan, nilai tambah lainnya dari program itu adalah studi kasus yang digunakan pada saat belajar sarjana sudah sekitar bidang penerbangan, jadi sudah latihan dulu menghadapi masalah ketika belajar.  

Baca juga : Sandiaga Uno Dorong Para Animator Surabaya ke Kancah Internasional

"Jenjang pendidikan yang di sediakan pun beragam mulai dari Sarjana sampai ke program Master in Aviation Management yang cocok di ambil pilot senior baik yang masih aktif maupun sudah pensiun, agar dapat mempunyai bekal masuk ke level manajemen di industry penerbangan,” tambah Capt. Dharmadi. 

Chairperson PIP2I (Perkumpulan Institusi Pendidikan Penerbangan Indonesia) yang juga merupakan Director & Principle FlyBest Flight Academy, Karin Item mengatakan, diperkirakan pada 2023, airline akan mulai proses recovery pascapandemi, untuk itu mulai 2022, lini rekrutmen pilot juga akan lebih intensif dan kompetitif untuk menghadapi tren kebutuhan masa depan. 

"Maskapai penerbangan internasional pun memiliki aturan dan seleksi yang cukup ketat, beberapa di antaranya selain Air Transport Pilot License dengan minimum 1,500 jam terbang juga membutuhkan kualifikasi Bachelor," ujarnya. 

Karin menjelaskan, progran yang dikembangkan bersama USG Education berusaha untuk memenuhi kebutuhan industri dan melahirkan Pilot yang mempunyai kompetensi yang kuat dan mampung bersaing dan berkarir di industri penerbangan nasional dan internasional. 

"Kami bekali siswa bukan hanya dari sisi teknis penerbangan tetapi juga dari sisi manajemennya. Sehingga lulusan dapat mengejar berbagai bermacam karir di industri penerbangan, baik sebagai pilot maupun pelaku ekosistem penerbangan lainnya” tambah Karin. 

Head of UniSadhuGuna BSD Campus Aimee Sukesna mengatakan, mampu berkarir dalam dunia Aviasi bukan hal mudah yang dapat diraih kebanyakan orang, karena maskapai penerbangan memiliki aturan dan seleksi yang cukup ketat. Persaingannya pun cukup ketat. 

"Disinilah kami hadir sebagai solusi bagi generasi muda dalam mewujudkan mimpi mereka untuk dapat terjun ke dunia air - hospitality dalam memenuhi syarat tersebut terutama dari sisi bekal akademis dan pengembangan soft skills," katanya. 

Aimee menjelaskan, program kolaborasi itu bertujuan untuk melahirkan para pilot yang mempunyai entrepreneurial mindset atau Creating Pilotpreneur. Selain mempelajari teknis penerbangan, siswa akan mempelajari lima pilar utama bisnis yaitu membuat strategi pemasaran yang tepat, strategi penjualan, menjaga kualitas operasi, mengatur keuangan, dan manajemen sumber daya manusia yang di perkaya dengan studi kasus nyata bidang penerbangan. 

"Sehingga tujuan kami, setelah selesai program tersebut baik di jenjang Sarjana maupun Pasca Sarjana, siswa tidak hanya berkarir di operasional penerbangan tetapi juga mempunyai kemampuan memimpin dan mengelola industri penerbangan atau bahkan lini industri lainnya” tambah Aimee yang merupakan Head of UK BTEC Programs yang bertugas mengembangkan kurikulum internasional dari BTEC di USG Education 

Sementara itu Reza Suriansha selaku Chairman STIE UniSadhuGuna Reza Suriansha menambahkan, UniSadhuGuna menjalankan program studi yang mengunakan metode Professional Development, Real-project dan Problem Based Learning untuk pembelajaran yang lebih efektif, sehingga siswa tidak hanya belajar teori tetapi juga dapat mempraktekan teori tersebut dengan baik di dunia nyata.

“STIE UniSadhuGuna menjalankan setiap program berdasarkan kegiatan diskusi, eksperimen, demo atau simulasi, yang dapat memberikan kesempatan kepada para siswa menjadi termotivasi bergerak lebih maju” kata Reza. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT