06 September 2021, 12:59 WIB

Kampus Diminta Kembangkan Kolaborasi untuk SDM Berdaya Saing Global


Emir Chairullah | Humaniora

Setwapres
 Setwapres
Wakil Presiden Ma'ruf Amin

DUNIA kampus diminta terus mengembangkan riset dan inovasi serta kolaborasi antarpihak, baik lembaga pendidikan, lembaga riset, dunia usaha dan industri, maupun pemerintah.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebutkan, langkah tersebut perlu dilakukan agar SDM di Indonesia bisa bersaing secara global di masa depan.

"SDM unggul merupakan kunci untuk memenangkan persaingan global," katanya saat memberi sambutan pada Rapat Terbuka Senat Universitas Islam Malang melalui konferensi video, Senin (6/9).

Disebutkan, berdasarkan data angkatan kerja Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2021, dari sekitar 137 juta pekerja hanya 13,3 juta orang atau 10% yang lulusan jenjang pendidikan tinggi. Menurut dia, hal tersebut berkorelasi dengan kualitas, produktivitas serta daya saing Indonesia. Karena itu, menurut Ma'ruf, saat ini pemerintah menempatkan pembangunan SDM unggul sebagai prioritas nasional.

"Kriteria SDM unggul tersebut harus menjadi tagline nasionalisme para milenial yang akan membawa tongkat estafet kemajuan bangsa Indonesia," ujar Ma'ruf.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Ma’ruf mengharapkan kampus dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk menghasilkan generasi yang unggul dan profesional dalam Ilmu Pengetahuan, Teknologi (IPTEK), berjiwa wirausaha dan berjati diri Islami, serta mampu bersaing di tingkat regional dengan SDM dari negara-negara di ASEAN dan di tingkat global. Sementara untuk para mahasiswa, Ma’ruf meminta untuk tetap berpijak pada jati diri dan kearifan lokal.

“Anda semua dituntut punya kemampuan bersaing pada tingkat global, tetapi hati/jati diri Anda tetap harus melekat sesuai dengan identitas dan akhlak insan nusantara,” tuturnya.

Baca juga:  Animo Tinggi, Program Kampus Merdeka tidak Jalan di Tempat

Wapres juga mengingatkan untuk senantiasa menjunjung tinggi moralitas dan menghargai keragaman sosial.

“Dunia tidak akan menjadi lebih baik hanya karena banyak orang cerdas, tetapi lebih karena terjaganya moralitas dan kohesi sosial yang baik,” tuturnya.

Khusus untuk Unisma, Wapres mengungkapkan dalam era teknologi informasi saat ini, pemikiran tentang liberalisme, sekularisme dan radikalisme serta ajaran lain yang tidak sejalan dengan nilai Islam yang wasathy/moderat sangat mudah masuk dan dapat mempengaruhi pola pikir mahasiswa sehingga berpotensi untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

“Hal ini harus diwaspadai dan diantisipasi di lingkungan Unisma sebagai lembaga pendidikan tinggi pengampu nilai ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Saya berharap Unisma dapat terus melakukan penguatan nilai keislaman dan keindonesiaan yang sejalan dengan tujuan pendidikan nasional,” pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT