02 September 2021, 06:10 WIB

Rencana Membangun Panti Asuhan bagi Yatim Piatu


Jek/M-4 | Humaniora

ANTARA//Basri Marzuki
 ANTARA//Basri Marzuki
Relawan #RoaJagaRoa menyiapkan bungkusan makanan untuk diantarkan kepada warga yang isolasi mandiri COVID-19 di Palu. 

SEPASANG suami-istri yang juga dosen di Universitas Tadulako, Kota Palu, harus dilarikan ke rumah sakit pada medio Juli lalu karena saturasi oksigen mereka turun hingga ke angka 60. Ambulans sudah membawa keduanya. Akan tetapi, mereka sudah mengembuskan napas terakhir ketika ambulans tinggal berjarak 15-20 meter dari rumah sakit. Situasi ini adalah salah satu dari beberapa yang harus dihadapi para relawan Roa Jaga Roa.

Mereka harus bersiap pada kondisi darurat dan memilukan seperti dalam kejadian meninggalnya dosen Universitas Tadulako itu. Sebulan belakang ini, para jurnalis dan berbagai lapisan warga di Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang tergabung dalam gerakan Roa Jaga Roa memang aktif dalam upaya merespons situasi dan membantu penanganan warga yang terpapar covid.

Selain menjemput pasien, menyediakan ambulans, mencarikan oksigen dan ruang di rumah sakit, hingga menyediakan makanan jadi untuk pasien isoman, mereka juga ada yang harus bertugas untuk melakukan pemulasaraan jenazah. Relawan yang harus berhadapan dengan pasien dan jenazah pun mendapat pelatihan dari relawan lain yang punya latar belakang sebagai tenaga medis.

Upaya yang sampai saat ini masih berjalan pun direncanakan tetap dilakukan hingga situasi kasus covid-19 benar-benar terkendali. Salah satu yang juga menjadi rencana dari gerakan ini ialah menyediakan tempat bagi para anak yatim piatu yang ditinggal orangtua mereka.

“Ada usulan, karena juga banyak anak yang jadi yatim piatu karena orangtua mereka meninggal akibat covid. Ada saran untuk buat panti asuhan dan yayasan yang diberi nama Roa Jaga Roa,” terang Ruslan Sangaji, salah satu inisiator, saat konferensi video dengan Media Indonesia, Jumat (27/8).

Ke depan, yang juga diupayakan ialah dengan membuka kanal usaha dan hasilnya digunakan untuk memotori gerakan Roa Jaga Roa.

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Kalau bukan kita, siapa lagi? Harapannya apa yang kami lakukan ini bisa menginspirasi semuanya untuk ikut bersama-sama,” tambah Ruslan.

Salah satu relawan Roa Jaga Roa, Nurmarjani Loulembah atau Nani, menambahkan, alasan dirinya turut bergabung dalam Roa Jaga Roa ialah kemanusiaan.

“Bisa jadi yang saat ini dibantu ialah orang lain. Besok-besok, siapa tahu kita butuh bantuan orang. Mau tidak mau, kita harus luangkan waktu lebih pada waktu yang sempit ini untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.” (Jek/M-4)

 

Biodata:

Roa Jaga Roa

 

Aktif bergerak sejak 24 Juli 2021.

Mengupayakan akses layanan rumah sakit dan medis bagi pasien covid-19, termasuk penyediaan oksigen dan ambulans. Di samping itu, memberi layanan antar makanan untuk pasien isoman.

 

BERITA TERKAIT