26 August 2021, 13:18 WIB

Laporan Terbaru IPCC Picu Debat Sengit Perubahan Iklim di PBB


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
Kenaikan suhu bumi di sejumlah kawasan Eropa telah menyebabkan kebakaran hutan. 

LAPORAN  penilaian tahunan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim  yang dirilis beberapa pekan lalu, menyebabkan perdebatan terhadap perubahan iklim semakin sengit.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) percaya bahwa, jika tidak ada pengurangan skala besar dan segera terhadap emisi gas rumah kaca, pembatasan pemanasan global  di tingkat mendekati 1,5°C atau bahkan 2°C tidak mungkin diwujudkan. 

Banyak perubahan iklim yang diamati belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya dalam ribuan tahun, dan beberapa di antaranya dianggap tidak dapat diubah dalam jangka menengah sekalipun.

“Perubahan iklim telah mempengaruhi setiap wilayah di permukaan Bumi dengan berbagai cara. Perubahan yang kita semua alami akan terus meningkat dengan pemanasan yang bertambah,” ungkap Panmao Zhai, Ketua Kelompok Kerja IPCC.

Gelombang panas yang meningkat, musim panas yang lebih panjang, dan musim dingin yang lebih pendek diperkirakan akan terjadi. Curah hujan yang tinggi akan menyebabkan banjir, sedangkan daerah lain akan mengalami kekeringan yang parah.

Permukaan laut akan terus meningkat, dan ekosistem laut akan terancam oleh adanya kombinasi antara  lautan yang memanas, pengasaman, dan penurunan kadar oksigen, merupakan beberapa poin peringatan dari laporan tersebut.

“Hal tersebut kemungkinan besar akan mengarah pada intensifikasi bencana di tahun ini secara dramatis yang diduga terkait dengan perubahan iklim," ungkap Annabela, Project Manager 21 Hari Vegan dari Sinergia Animal.

Sinergia Animal, sebuah LSM internasional yang bekerja untuk mempromosikan pilihan makanan yang lebih ramah lingkungan untuk membantu memerangi perubahan iklim di Amerika Latin dan Asia Tenggara.

"Termasuk juga banjir di Jerman dan Belgia yang menewaskan 209 orang, banjir yang menewaskan 33 orang di China, kekeringan terparah kedua dalam sejarah California, dan gelombang panas yang menewaskan 815 orang di Kanada,” tambah Annabela.

Cegah kerusakan yang lebih parah

IPCC menyarankan bahwa langkah-langkah kuat untuk mengurangi perubahan iklim harus diambil untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Jika pemanasan global mencapai 2°C, akan berdampak pada pertanian dan kesehatan.

Para peneliti memperkirakan bahwa produksi makanan bertanggung jawab atas lebih dari seperempat emisi gas rumah kaca dunia, dengan peternakan dan perikanan bertanggung jawab atas 31% dari total ini.

“Untuk mempersempit jejak karbon ini, tindakan drastis harus diambil, termasuk dalam tingkat individu. Salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya adalah dengan mengurangi atau menghilangkan konsumsi produk hewani, yang sejauh ini merupakan bahan pokok paling berpolusi yang kita konsumsi,” tambah Annabela. 

Penurunan produksi dan konsumsi produk hewani sangat penting untuk pengurangan emisi gas metana. Gas tersebut merupakan salah satu perhatian utama dalam analisis laporan IPCC, akibat pesatnya peningkatan kadar emisi yang sebagian besar didorong oleh bahan bakar fosil dan sektor industri peternakan.

Selain itu, metana dalam jangka panjang memiliki dampak 25 kali lipat , daripada CO2 di atmosfer. 

Dalam sektor peternakan, CO2 sebagian besar dikeluarkan karena adanya perubahan penggunaan lahan – misalnya, penggundulan hutan untuk area penggembalaan atau pertanian kedelai untuk pakan ternak – sementara metana sebagian besar dikeluarkan dari pencernaan hewan-hewan yang diternakkan. 

Setiap kilogram daging sapi yang dihasilkan menghasilkan 60kg emisi gas rumah kaca (GRK); untuk membuat 1 kg keju, 21 kg GRK dilepaskan. Angka tersebut, 20 dan 7 kali lebih banyak daripada memproduksi tahu—sumber protein,  dalam jumlah yang sama masing-masingnya. 

Sementara produksi 1 kg susu mewakili 2,8 kg emisi GRK, dimana produksi susu kedelai hanya mengeluarkan 1 kg.

Sinergia Animal mengajak masyarakat untuk mencoba kebiasaan baru dan yang lebih berkelanjutan, seperti mengubah pola makan, untuk membantu menghentikan krisis iklim.

LSM tersebut menawarkan tantangan pola makan nabati, di mana partisipan yang mengikuti tantangan tersebut akan menerima email setiap hari dengan berbagai tips, resep, dan juga dukungan nutrisi selama 21 hari. Pendaftaran tantangan tersebut sepenuhnya gratis, dan dapat dilakukan di 21hariveg.org. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT