19 August 2021, 17:00 WIB

Mengulik Peran Akademisi Dalam Pengabdian Masyarakat Pedesaan


Purnomo Sidi Priambodo, Lektor Kepala atau Associate Professor di Teknik Elektro UI | Humaniora

Foto-foto Dok Purnomo Sidi Priambodo
 Foto-foto Dok Purnomo Sidi Priambodo
Kegiatan perekonomian masyarakat desa Munjul, Cibungbulang

BILA kita menyempatkan diri untuk menelusuri wilayah Kabupaten Bogor Barat, ada rasa takjub melihat daerah yang subur, punya potensi sebagai penghasil sayur mayur dan peternakan. Namun sejauh ini, potensi ekonomi tersebut belum bisa berkembang dengan baik karena secara umum sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur jalan di wilayah tersebut belum memadai. 

Kondisi itulah yang membuat kalangan akademisi dengan landasan tridharma perguruan tinggi, tergerak untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, beberapa waktu lalu. Desa Munjul, Kelurahan Ciareteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor menjadi sasaran bertukar pengalaman kepada khalayak terkait kondisi wilayah tersebut.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, hanya sekitar 60 kilometer (km), ternyata tidak berbanding lurus dengan kondisi kesejahteraan ekonomi masyarakat di sana. Bahkan bisa dibilang masih relatif rendah. Desa yang memiliki penduduk kurang dari seribu itu, sebagian besar warganya bekerja sebagai buruh tani sayur mayur, peternak kecil dan buruh kasar di luar desa.

Pendidikan orang dewasa rata-rata SD dan SMP. Ketika listrik PLN yang baru masuk desa Munjul pada 2013, dinilai bisa membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan kehidupan masyarakat desa. Bisa dikatakan kehidupan masyarakat di dusun tersebut masih dikelompokkan dalam kategori relatif sederhana dan belum sejahtera.  

Kondisi ekonomi pedesaan seperti ini tidak hanya ada di Desa Munjul saja, tetapi secara umum merata di Indonesia. Peningkatan kesejahteraan pedesaan tidak hanya tanggung jawab Pemerintah, tetapi seluruh komponen bangsa. Dana APBD untuk desa biasanya sangat kecil, sehingga jika tidak dikelola dengan tepat dan terstruktur akan menjadi mubazir.

Pengalaman penulis dalam pengabdian masyarakat di desa tersebut, di samping dana APBD untuk desa yang dikelola oleh aparat desa, dana lain berupa hibah pengabdian masyarakat yang umumnya dibawa dan dikelola oleh para dosen perguruan tinggi negeri pegiat pengabdian masyarakat, akan memberikan dampak nilai lebih. Itu karena dilakukan dengan analisa kebutuhan yang baik, karena terstruktur dan tepat sasaran. 

Perbedaan dana APBD daerah yang dikelola oleh aparat desa umumnya untuk kepentingan masyarakat desa yang lebih umum luas dan jangka waktu lama. Sedangkan hibah yang dibawa melalui para pegiat pengabdian masyarakat, umumnya lebih ke suatu kelompok masyarakat yang lebih kecil. Hal itu dinilai bisa memiliki dampak produktivitas ekonomi yang lebih dan bisa mendorong kelompok yang lainnya untuk lebih produktif.

Pendidikan dan ketrampilan
Penyebab kemiskinan dan kesejahteraan yang rendah di desa tersebut utamanya disebabkan karena pendidikan dan ketrampilan yang rendah sehingga produktivitas rendah. Selain itu akses ke dunia luar desa relatif sulit karena infrastruktur jalan yang tidak memadai. Kalau untuk berpapasan dua kendaraan multiguna (MPV) sulit, bisa dibayangkan betapa sempitnya jalan. Akibatnya akses perdagangan sayur mayur dan ternak relatif sulit.  

Dengan rata-rata pendidikan yang SD dan SMP, masyarakat hanya memiliki ketrampilan dan produktivitas yang terbatas sebagai buruh dalam bidang pertanian dan peternakan dengan kualitas dasar. Kondisi ini menyebabkan kesulitan untuk mengakses dan mendapatkan kesempatan untuk kesejahteraan ekonomi yang lebih baik. 

Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas warga setempat, perlu dipilah beberapa hal yang dominan dapat memengaruhi kehidupan warga pedesaan. Berikut ada 3 poin yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat desa, yaitu; pertama, meningkatkan jenjang pendidikan dan ketrampilan warga setempat, sehingga bisa mendapatkan akses pekerjaan dengan gaji lebih baik di luar desa Munjul. 

Kedua, mendorong daerah tersebut menjadi sentra penghasil sayur mayur dan ternak, dengan membekali masyarakat ketrampilan yang dibutuhkan, sehingga menjadi desa produktif. Ketiga, meningkatkan kualitas infrastruktur akses ke dusun tersebut dengan melebarkan jalan dan penerangan mandiri, untuk mempermudah akses ke dusun tersebut, sehingga diharapkan ada peningkatan kegiatan ekonomi.

Kebijakan dalam program pembangunan
Poin pertama berupa peningkatan pendidikan masyarakat adalah program jangka sangat panjang. Selain itu pendidikan tinggi justru akan menyedot warga keluar daerah untuk mendapatkan peningkatan kesejahteraan. Sedangkan desa Munjul yang ditinggalkan akan tetap sama seperti semula, yaitu tidak produktif dan rata-rata masyarakat yang tinggal tetap berpendapatan rendah. Jadi poin pertama tidak efektif untuk meningkatkan produktivitas warga saat ini.

Sedangkan poin kedua berupa dorongan sebagai sentra penghasil sayur-mayur dan ternak dengan cara membekali ketrampilan masyarakat, dan poin ketiga berupa peningkatan infrastruktur akses, akan mendorong desa tersebut menjadi lebih produktif.  Produktivitas tersebut akan bermanfaat untuk masyarakat luas dan sekaligus peningkatan kesejahteraan warga. Di sinilah peran akademisi pengabdi masyarakat untuk mendorong dan memotivasi masyarakat untuk maju.

Berdasarkan analisa situasi tersebut, strategi awal pembangunan produktivitas dan kesejahteraan desa Munjul dalam rangka hibah pengabdian masyarakat Universitas Indonesia (UI) ini harus dimulai dengan melaksanakan langkah poin ke-2 atau 3 secara berurutan. Selain itu perlu adanya peran dosen perguruan tinggi dalam pembinaan sebagai pendamping aparat pemerintahan setempat.

Pentingnya dosen di sini karena memiliki kemampuan analisa dan pembinaan secara sistematis, untuk bisa membantu aparat pedesaan dalam proses meningkatkan produktivitas masyarakat desa secara terstruktur dan efektif. Lebih lanjut lagi, Pemerintah bisa menghemat, karena  tidak memerlukan biaya konsultasi tambahan.

Strategi prioritas program pembangunan
Langkah pertama adalah melihat kendala dan potensi yang ada di desa tersebut. Selanjutnya perlu pemikiran strategi untuk bisa menyelesaikan masalah dan kendala serta menajamkan potensi yang ada untuk menjadi kekuatan ekonomi suatu wilayah. Kendala yang sudah menghadang adalah; pertama, keahlian SDM yang sangat rendah (pendidikan rata-rata SD-SMP). 

Kedua, infrastruktur akses jalan sepanjang 0,8 km-1 km terlalu sempit untuk hilir mudik transportasi, bahkan tanpa penerangan jalan. Keahlian SDM yang rendah mungkin bisa kita singkirkan untuk pemecahan problem kemiskinan desa jangka pendek. Jadi peningkatan kesejahteraan jangka pendek adalah fokus pada peningkatan kualitas infrastruktur akses jalan menuju ke desa tersebut.

Permasalahan infrastruktur akses jalan dan penerangan jalan ini yang harus diprioritaskan sebagai usaha jangka pendek 1-2 tahun ke depan. Karena penyelesaian infrastruktur inilah yang menjadi landasan usaha peningkatan produktivitas dan kesejahteraan dusun Munjul selanjutnya. Selain itu adalah penyediaan air bersih dari sumber mata air yang tersedia.

Tanah yang subur untuk produk sayur mayur dan peternakan menjadi potensi yang masih bisa ditingkatkan produktivitasnya jika petani dan peternak ditingkatkan keahliannya. Mereka pun bisa terhindar dari tengkulak karena akhirnya bisa memiliki modal dan jaringan pemasaran.

Dibutuhkan peningkatan ketrampilan petani sehingga dapat mengolah tanah pertanian lebih produktif dalam ukuran kg/(m2.tahun).  Selain itu diperlukan pembentukan koperasi desa yang kredibel untuk membantu akses jaringan perdagangan di luar daerah, agar terhindar dari jeratan tengkulak. Ini menjadi prioritas jangka menengah 3-4 tahun ke depan.

Dengan identifikasi permasalahan dan strategi prioritas untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, yaitu dengan mencanangkan prioritas jangka pendek (1-2 tahun ke depan) untuk peningkatan infrastruktur akses jalan desa. Kemudian jangka menengah panjang (3-4 tahun ke depan) untuk pelatihan SDM dan tata kelola pertanian dan perdagangan. 

Tujuan utama dan dari program hibah Pengabdian Masyarakat (PengMas) ini adalah meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan desa Munjul. Harapannya adalah hibah PengMas ini bisa berlangsung untuk 4 tahun berturutan, sehingga strategi pembangunan jangka pendek dan menengah selama 4 tahun tersebut, bisa direalisasikan. Selanjutnya bisa menjadi landasan dalam pembangunan jangka panjang.

Hibah PengMas untuk tahun pertama dalam jangka pendek 1-2 tahun, diusulkan penguatan infrastruktur akses jalan dalam bentuk pelebaran dan penguatan jalan serta pemasangan lampu mandiri energi. Di empat lokasi sepanjang 0,8 km dilebarkan 2 meter dan panjang 10 m agar bisa untuk parkir sementara ketika mobil saling berpapasan. Salah satu sisi jalan adalah parit kecil untuk pengairan yang jika dibuatkan konstruksi terowongan air tidak perlu biaya pembebasan tanah. Hanya butuh biaya untuk pembuatan konstruksi saja. 

Selama ini ada kekhawatiran terjadinya erosi saat musim hujan. Jika tidak secepatnya dibuatkan penguat pondasi jalan, longsor dan amblas bisa menjadi kenyataan. Hal itu dilakukan karena jalan tersebut dirancang untuk bisa menyangga beban kendaraan sekitar 1,5 ton.

Arti penting keterlibatan masyarakat
Pelebaran jalan saja tidak cukup tanpa disertai penerangan jalan agar lalu lintas ekonomi bisa bergerak pada malam hari. Untuk itu dibutuhkan pemasangan sistem lampu mandiri energi di setiap lokasi pelebaran jalan. Yang tidak kalah penting adalah keterlibatan masyarakat dan keberlanjutannya.

Peran penting dosen pengabdi masyarakat adalah dalam mendorong dan meyakinkan aparat dan masyarakat desa untuk terlibat dalam proses pembangunan bersama tanpa harus diupah. Jadi keterlibatan mitra yaitu tim desa Munjul adalah dalam bentuk inkind yang berupa tenaga kerja untuk membangun pelebaran jalan, tiang lampu mandiri energi dan penguatan pondasi jalan pinggir sungai. Mereka tidak dibayar untuk tenaga kerja.

Program pembangunan ini bisa berlanjut jika ada kelanjutan pengarahan dari pihak pemberi bantuan yaitu UI. Perlu dilakukan pembinaan dan bantuan arahan pembangunan selama paling tidak empat tahun. Dalam jangka pendek, tahun pertama dan bahkan bisa sampai tahun ke 2, dibutuhkan penyiapan infrastruktur untuk mendukung desa tersebut menjadi desa produktif. Infrastruktur tersebut adalah akses jalan yang memadai untuk pengangkutan hasil pertanian dan ternak dan lampu penerangan jalan, sehingga aktivitas ekonomi bisa diperpanjang sampai malam hari. 

Sedangkan untuk jangka menengah di tahun ke 2-3, dilakukan pembinaan dalam bentuk peningkatan keahlian bercocok tanam dan peternakan. Perlu didatangkan para pelatih pertanian dan peternakan untuk membina para petani dan peternak desa Munjul. Diharapkan pada akhir tahun ketiga, masyarakat sudah terlatih untuk menjadi petani dan peternak dengan kualitas yang baik dan produktif. 

Untuk jangka panjang pada tahun ke 5-6, perlu dibina untuk membangun kooperasi. Sehingga selain membuat masyarakat semakin produktif dan membantu mereka memiliki nilai tawar (bargaining position) lebih baik, dan akhirnya bisa menyejahterakan. Sustainability atau keberlanjutan dari konsep ini sangat tergantung kepada pihak UI yang akan memberikan izin pembinaan pada desa tersebut. (RO/O-2)
 

BERITA TERKAIT