18 August 2021, 23:04 WIB

Antigen Jadi Bagian Skrinning Covid-19, Kenyamanan Saat Swab Harus Dipertimbangkan


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

Dok. Abbot Panbio
 Dok. Abbot Panbio
Tenaga kesehatan bersiap menggunakan alat swab antigen Abbot Panbio

PANDEMI Covid-19 masih berlangsung di Indonesia. Salah satu medium penularan adalah klaster keluarga, terlebih bila masih ada anggota keluarga yang diharuskan untuk beraktivitas di luar rumah, Salah satu upaya preventif ialah dengan melakukan tes Covid-19 secara rutin, diantaranya menggunakan metode swab test antigen. 

"Inilah gaya hidup baru yang adaptif, kita harus selalu mitigasi kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita inginkan. Apalagi bagi yang masih aktif bekerja di luar, swab antigen sudah menjadi rutinitas," ujar dr. Andira Utami, founder gerakan Pintar Sehat Peduli & Health Consultant.

Andira menjelaskan, seluruh anggota keluarga saat ini memiliki risiko terkena Covid-19. Karena itu skrining dengan tes antigen dianjurkan rutin dilakukan. Apalagi jika ada anggota keluarga yang terpaksa masih harus selalu keluar rumah. 

"Skrining ini berfungsi untuk mencegah lebih meluasnya Covid-19,” tambahnya.

Namun swab antigen dalam keluarga juga bukan persoalan sepele. Swab dengan metode nasofaring yang umum di kenal masyarakat seringkali menjadi momok tersendiri karena dianggap tidak nyaman (menyakitkan). Terutama bagi orang yang baru pertama, juga anak-anak dan lansia. 

Andira yang sering menangani tes swab di lapangan mengakui, pasien yang takut swab biasanya akan memberi reaksi dengan gerakan tubuh mundur atau menjauh. Hal seperti ini bisa membuat pengambilan sampel menjadi tidak presisi. Apalagi jika sang pasien kemudian bersin-bersin. Selain menjadikan pengambilan sampel tidak tepat, respon itu juga menyebarkan risiko penularan kepada nakes melalui droplet yang mereka sebarkan.

Alat tes antigen nasal yang lebih ramah bagi pasien memberikan solusi, karena jenis pengambilan sampel nasal mudah dilakukan yaitu hanya di dinding hidung dengan kedalaman 2cm dari permukaan. 

“Antigen nasal ini sangat solutif dan membuat kita yang di lapangan menjadi lebih senang. Ini temuan yang sangat bermanfaat baik bagi orang dewasa maupun anak-anak yang notabene sangat sulit. Tes antigen nasal tidak sakit dan sama sekali tidak menyeramkan,” ujar Andira. 

Baca juga : Pandemi Menuntut agar Kualitas di Rumah Saja Meningkat

Namun selain kenyamanan, sebaiknya masyarakat juga mencermati keakuratan deteksi yang dihasilkan oleh alat tersebut. Paling mudah adalah dengan memastikan bahwa alat yang digunakan telah memiliki ijin edar Kemenkes atau lebih baik lagi jika telah mengantongi rekomendasi dari institusi global seperti WHO.

Saat ini Abbott Panbio Antigen Nasal diklaim sebagai satu-satunya produk antigen nasal yang telah mendapat rekomendasi Emergency Used Listing (EUL) WHO. Selain itu, seperti dilansir dalam dokumen yang dikeluarkan oleh Directorate-General for Health and Food Safety Uni Eropa, 

Abbott Panbio Antigen Nasal juga masuk dalam daftar rapid test antigen Covid-19 yang disetujui oleh Komite Keamanan Kesehatan Uni Eropa dan telah disepakati oleh 27 negara anggotanya pada 23 Juli 2021. 

Uni Eropa menetapkan 4 persyaratan yang harus dipenuhi oleh alat test antigen untuk dapat masuk ke dalam daftar rekomendasi yaitu harus memiliki tanda CE (conformity of Europene/sertifikasi produk berstandar Eropa), memenuhi persyaratan kinerja minimum sensitivitas 90% dan spesifisitas 97%, Abbott Panbio Antigen Nasal sendiri memiliki sensitivitas 98,1% dan spesifisitas 99,8% berdasarkan hasil studi,

Lebih jauh terkait pencegahan dan minimalisir meluasnya kasus Covid-19 di klaster keluarga, Andira memberikan tips keluarga dalam menjalani pandemi berikut ini. Pertama, pastikan keamanan orang dewasa yang harus menjaga anak kecil di rumah. 

Kedua, aturan pencegahan yang spesifik adalah cuci tangan dengan cara yang benar. Ketiga, saat memasak diusahakan sampai tingkat kematangan optimal karena kuman tidak bisa dilihat secara kasat mata. Keempat, olahraga untuk meningkatkan imun. Kelima makan bergizi. T

"idak mengapa persiapan memasak menjadi lebih lama karena untuk mendapatkan multivitamin alami, yang bisa memperkuat ketahanan tubuh kita," pungkas Andira. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT