04 August 2021, 18:57 WIB

Kasus Meningkat di Sumatera dan Sulawesi, Satgas Minta Pemda Waspada


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
 ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito

JURU Bicara Satgas Penanganan covid-19 Prof Wiku Adisasmito meminta sejumlah provinsi untuk tetap waspada karena mengalami kenaikan kasus dalam 3 minggu berturut-turut. Provinsi-provinsi tersebut didominasi Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

"Pulau Sumatera, hampir semua provinsinya menunjukkan kenaikan kasus kecuali Kepulauan Riau. Di Kalimantan, seluruh provinsinya menunjukkan kenaikan kasus dalam 3 minggu berturut-turut. Khusus Kalimantan Barat, sempat mengalami penurunan kasus," kata Prof Wiku dalam keterangannya, Rabu (4/8).

Sementara di Pulau Sulawesi seluruh provinsinya menunjukkan kenaikan kasus dalam 3 minggu. Kecuali, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo yang sempat mengalami penurunan. Sedangkan di Pulau Jawa masih ada DI Yogyakarta yang menunjukkan kenaikan kasus selama 2 minggu terakhir.

"Kenaikan kasus yang belum dapat ditekan perlu menjadi perhatian bersama. Dikarenakan, pemerintah daerah dan masyarakatnya lengah dan menganggap daerahnya baik-baik saja hanya karena tidak menerapkan PPKM Level 4," sebutnya.

Dia berharap pemerintah daerah dan masyarakat mempersiapkan diri jika ada potensi kenaikan kasus. Fasilitas pelayanan kesehatan juga harus segera mengantisipasi dan kesiapan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di daerahnya masing-masing.

Baca juga: Libur 1 Muharam Tahun ini Digeser

Pastikan kebutuhan untuk pelayanan kesehatan mencukupi dengan mengkonversi tempat tidur rumah sakit pasien covid-19 atau membuka tempat isolasi terpusat jika dibutuhkan.

"Pastikan juga suplai oksigen dan obat-obatan tercukupi dan terdistribusi dengan baik. Juga, peran posko desa/kelurahan agar diperkuat untuk pengawasan dan pelaporan terhadap kepatuhan protokol kesehatan dapat ditingkatkan," tegasnya.

Bagi provinsi yang masih mengalami kenaikan kasus, segeralah berlajar dari provinsi yang sudah mengalami perbaikan. Pemerintah daerah harus lakukan koordinas berkala dengan seluruh unsur pemerintah daerah, dan evaluasi progres perkembangan kasus dan membatasi mobilitas di wilayahnya masing-masing jika dibutuhkan.

"Provinsi yang sudah baik untuk mempertahankan. Jangan terlena dan tetap waspada. Karena kasus harian masih di atas 30 ribu yang perlu ditekan. Seperti pembelajaran pada kenaikan kenaikan kasus yang lalu bahwa dampak dari kebijakan akan terlihat di minggu ketiga dan bertahan selama 6 Minggu ke depan," ujarnya.

Sebelumnya, dalam 2 mingggu terakhir terjadi tren penurunan kasus jika dilihat dari puncak kasus tertinggi pada 3 minggu lalu. Penurunannya dari 350.273 kasus menjadi 289.029 kasus, hingga turun menjadi 273.891 kasus. Hal ini sejalan dengan angka positivity rate mingguan yang juga menurun dalam kurun waktu yang sama.

Dari sebelumnya angka tertinggi mencapai 30,72% menjadi 27,38% dan selanjutnya menjadi 25,18%. Dan melihat 34 provinsi, ada 8 penurunan kasus positif dalam 2 minggu berturut-turut. Kedelapannya ialah Kepulauan Riau, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Maluku dan Maluku Utara.

Selain kasus positif dan positivity rate yang menurun, pada tingkat keterisian tempat tidur isolasi atau bed occupancy ratio (BOR) dan kasus aktif menurun dalam 2 minggu terakhir. Bahkan, penurunan BOR dan kasus aktif secara bersamaan terjadi pada 14 provinsi.

Secara nasional, angka BOR mingguan sebelumnya sempat mencapai 77,07% pada 11 Juli 2021. Namun perlahan menunjukkan menjadi 75,91%, turun lagi menjadi 70,62% dan di minggu terakhir menurun lagi menjadi 61,95%. Penurunan ini sejalan dengan penurunan kasus aktif selama 2 minggu terakhir. Sebelumnya kasus aktif sempat mencapai 18,84% menjadi 18,12%, terus turun menjadi 15,55% per 1 Agustus 2021.

"Penurunan nyata terlihat pada penurunan BOR di Wisma Atlit yang saat ini persentase huniannya di angka 31,34%," ujarnya.

Melihat perkembangan lebih dalam ke tingkat provinsi, penurunan kasus aktif dan BOR secara bersamaan terjadi pada 14 provinsi. Diantaranya Lampung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat.

Selain itu, provinsi lain juga mencatatkan penurunan BOR yang signifikan, seperti DKI Jakarta sebesar 21,55% dan Banten yang turun 20,57% dalam 1 minggu terakhir. "Saya apresiasi capaian ini, karena ini artinya pemerintah daerahnya mampu menekan beban berat tenaga kesehatan yang bertugas di rumah sakit selama beberapa minggu terakhir," lanjut Wiku.

Perkembangan demikian, menunjukkan upaya penanganan bersama yang sangat baik dan harus dipertahankan. Karena di tengah-tengah ancaman virus delta, tidak mengurangi semangat dari pemerintah, masyarakat dalam upaya kolaboratif ternyata efektif dalam menghadapinya. (OL-4)

BERITA TERKAIT