30 July 2021, 18:03 WIB

Story Telling Edukatif Tentang Pertolongan Pertama Saat Anak Terluka


Eni Kartinah | Humaniora

Ist
 Ist
Story teller ternama Indonesia Kak Ria Enes mengedukasi orangtua saat anaknya mengalami luka. 

MENURUT Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terjatuh merupakan salah satu kecelakaan yang paling sering dialami oleh anak-anak.

Masa pandemi seperti saat ini membuat anak menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Oleh karena itu, resiko terjadinya luka saat mereka di rumah pun menjadi semakin meningkat.

 Sementara itu, masih banyak orangtua di Indonesia yang belum memahami pentingnya memberikan penanganan luka yang tepat bagi anak.

Jika tidak ditangani dengan baik, luka yang terjadi akibat terjatuh dapat menimbulkan infeksi, bahkan menyebabkan trauma yang dapat menghambat anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Hansaplast menguatkan komitmennya dalam melindungi keluarga Indonesia dengan mempersembahkan program Anak Siaga Hansaplast yang bertujuan membantu orangtua dalam memberikan edukasi seputar luka kepada anak.

Melalui program ini, Hansaplast mengadakan serangkaian story telling yang diadakan secara virtual selama dua hari pada 29-30 Juli 2021.

Dokter spesialis anak, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A mengatakan,“Masa pandemi ini memberikan kesempatan kepada orangtua untuk bisa terlibat lebih aktif dalam kegiatan eksplorasi anak yang penting bagi tumbuh kembangnya.”

Orangtua perlu tahu, kata dr.Mesty, bahwa anak membutuhkan kebebasan dalam bermain dan bereksplorasi karena aktivitas tersebut dapat menstimulasi kreativitas dan kemampuan motorik anak.

 Selain memberikan kebebasan, sebagai pelindung bagi anak-anaknya, orangtua juga perlu memastikan keamanan lingkungan tempat anak bermain serta memiliki pemahaman yang baik mengenai luka.

“Karena masih banyak orangtua yang belum tahu bahwa setiap jenis luka membutuhkan perawatan yang berbeda dan perawatan luka yang tidak tepat dapat meningkatkan resiko infeksi berlanjut, bahkan trauma yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak,” kata dr.Mesty.

Lebih lanjut, dr Mesty memberikan contoh trauma yang mungkin dialami oleh anak yaitu memiliki rasa takut dan kekhawatiran yang lebih tinggi dibanding anak lain karena ia memiliki memori yang tidak menyenangkan saat terluka dulu.

“Karenanya penting bagi orangtua dan anak untuk mengenal jenis luka untuk mengetahui langkah perawatan seperti apa yang sebaiknya dilakukan,” katanya.

Berikut ini 3 (tiga) langkah mudah pertolongan pertama yang dapat diikuti orang tua saat anak mengalami luka ringan di rumah:

1.Bersihkan: Bersihkan luka dari kotoran untuk mencegah infeksi. Gunakan Hansaplast Spray Antiseptik yang dilengkapi Polyhexamethylene (PHMB) yang dapat mengobati luka tanpa rasa perih.

2.Lindungi: Lindungi luka dari kotoran dan bakteri untuk mencegah infeksi. Gunakan Plester Hansaplast dengan Bacteria Shield yang telah teruji secara klinis dapat melindungi luka dari kotoran dan bakteri penyebab infeksi.

3.Sembuhkan: Setelah luka mulai mengering, rawat luka dengan Hansaplast Salep Luka untuk mencegah bekas luka.

Sementara itu, Marketing Director Hansaplast, Dr. Christopher Vierhaus, mengatakan,“Luka, sekecil apapun, dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bila tidak ditangani dengan baik karena beresiko menyebabkan infeksi berlanjut dan trauma pada anak.”

“ Memahami pentingnya bagi orangtua untuk mengetahui tata cara penanganan luka pada anak, selain menghadirkan teknologi Bacteria Shield, Hansaplast juga mengadakan program Anak Siaga Hansaplast yang mengemas edukasi mengenai luka dengan cara yang seru dan menyenangkan untuk diikuti bersama antara orangtua dan anak,” tuturnya.

Menggandeng story teller ternama Indonesia yaitu Kak Ria Enes dan Susan serta Kak Bonchie Yoska Sudrajat, Hansaplast mengajak orangtua dan anak Indonesia untuk memahami seluk-beluk luka mulai dari apa itu luka, jenis-jenis luka.

Tak hanya itu, dua story teller juga mengedukasi bagaimana cara menguasai keadaan yang tidak diinginkan seperti kecelakaan sehingga baik orangtua maupun anak dapat melakukan langkah pertolongan pertama pada luka secara tepat.

“Saat terjadi insiden, poin terpenting yang justru paling sering dilupakan oleh orangtua adalah tetap tenang dan tidak panik. Agar anak tumbuh jadi pribadi yang tidak mudah panik, saat terjadi luka, orangtua sebaiknya tidak melarang anak untuk menangis melainkan mencoba menenangkan dengan cara meyakinkan bahwa papa dan mama ada bersamanya,” paparnya.

“Dengan sikap tenang, akan lebih mudah untuk fokus pada langkah yang seharusnya dilakukan untuk menangani luka sesuai dengan jenisnya,” ucap Kak Ria Enes. (Nik/OL-09)

 

BERITA TERKAIT