30 July 2021, 17:06 WIB

Survei Dewan Pers: Publik Percaya Berita Covid-19 dari Media Mainstream


Atalya Puspa | Humaniora

ANTARA/ASPRILLA DWI ADHA
 ANTARA/ASPRILLA DWI ADHA
Anggota komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) beraksi dengan membawa poster di kawasan Margonda, Depok, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021).

Publik menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap pemberitaan covid-19 yang dihadirkan media mainstream. Hal itu diungkap dalam survei yang dilakukan oleh Dewan Pers Indonesia.

"Dari survei yang dilakukan, menujukan bahwa media nasional menjadi rujukan utama publik tentang covid-19. Ini menunjukan tingkat kepercayaan publik terhadap pers tinggi. Kita sebagai media perlu tetap optimistis bahwa publik masih bersama kita dan publik percaya tentang apa yang kita beritakan," kata salah satu peneliti yang juga seorang dosen dari Universitas Multimedia Nusantara Albertus Magnus Presitanta dalam diskusi bertahuk Persepsi Publik Terhadap Pemberitaan Covid-19 di Media, Jumat (30/7).

Adapun, survei tersebut melibatkan sebanyak 1.119 responden dari wilayah Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua. Survei tersebut dilakukan pada Mei hingga Juni 2021 dengan metode pengumpulan data secara daring.

Baca juga1 Dosis Vaksin AstraZeneca 82% Efektif Tangkal Varian Baru Covid-19

Albertus menjelaskan, berbagai pemberitaan di media memberikan dampak yang cukup baik pada kebiasaan masyarakat. Sebanyak 58,7% responden mengaku merasakan adaptasi perubahan perilaku karena media konsisten menyajikan pemberitaan tersebut.

"Masyarakat lebih percaya pada gaya hidup sehat dan higenis, dan semua merasakan adaptasi perubahan perilaku," ungkap dia.

Selanjutnya, sebanyak 50% responden menyetujui bahwa media memberikan informasi terbaru tentang covid-19. Selain itu, 45% responden menyatakan bahwa media telah melaksanakan tugasnya dengan baik untuk melakukan edukasi kepada publik tentang covid-19.

Namun demikian, terdapat sejumlah catatan penting yang menjadi harapan masyarakat. Pertama, sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka mengharapkan pemberitaan covid-19 dengan tone positif untuk menumbuhkan perasaan optimistis.

"Banyak dari publik yang akhirnya membatasi diri dan selektif dalam mengakses berita. Karena mereka letih terhadap pemberitaan yang ada. Untuk itu jurnalisme positif diharapkan bisa memberikan inspirasi yang bisa diterapkan publik sehingga membangun optimisme bersama," beber dia.

Selain itu, dikatakan Albertus bahwa publik selalu menantikan berita tentang vaksinasi, khususnya yang diselenggarakan di berbagai daerah, bukan hanya Jakarta saja.

"Publik mengharapkan adanya informasi yang menceritakan tentang covid-19 dan vaksinasi khususnya di daerah. Lebih menceritakan kasus-kasus di daerah dengan data yang akurat, trasnparan, terbuka, serta bisa diakses oleh masyarakat," ucap dia.

Pada kesempatan tersebut Ketua Bidang Komunikasi Publik Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Hery Trianto mengungkapkan, dalam penanganan covid-19 satgas menempatkan komunikasi publik sebagai pilar utama. Karenanya, peran media sangat penting untuk menyebarkan informasi dengan jangkauan yang luas.

"Sejak awal kita sudah menyatakan bahwa 63% program perubahan perilaku kita sangat ditentukan media. Dengan demikian, media mainstream harus menempatkan diri dengan standar pengelolaan informasi yang benar sehingga kepercayaan publik bisa dipertanggungjawabkan," kata Hery. (H-3)

BERITA TERKAIT