29 July 2021, 07:58 WIB

Jangan Sembarang Konsumsi Obat Saat Isoman


Gana Buana | Humaniora

ANTARA FOOTO/M Risyal Hidayat
 ANTARA FOOTO/M Risyal Hidayat
Ilustrasi isolasi mandiri

SAAT ini, isolasi mandiri (isoman) menjadi prosedur yang harus dilakukan bagi pasien covid-19 dengan gejala ringan atau tanpa gejala. Namun, banyak pasien yang belum mengetahui bagaimana prosedur isoman yang benar.

Ketua Tim Mitigasi Covid-19 IDI Adib Khumaidi mengatakan pasien covid-19 harus mengetahui kiat-kiat dan petunjuk saat menjalani masa isolasi mandiri. Apalagi, belakangan banyak hoaks yang muncul dan menimbulkan dampak buruk.

"Semua protokol kesehatan ini harus dilakukan supaya kita semua bisa mengatasi pandemi covid-19 ini di Indonesia” kata Adib dalam keterangan resmi.

Adib menambahkan, terkait peningkatan kasus kematian pasien yang mengalami isoman disebabkan kurangnya edukasi. Menurutnya tidak sedikit masyarakat yang tidak memeriksakan kesehatannya ke fasilitas kesehatan saat mengalami gejala berat.

Hal ini yang menjadi penyebab utama tingginya angka kematian pasien Isoman. Selanjutnya, pasien covid-19 isolasi mandiri disarankan untuk mengonsumsi obat dan vitamin. Namun kasus kelangkaan obat dan vitamin bagi pasien covid-19 yang terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu menimbulkan banyak perhatian.

"Perilaku panic buying obat dan vitamin yang timbul di masyarakat akibat beredarnya informasi yang tidak valid berdampak pada ketersediaan obat dan vitamin di beberapa apotek menjadi langka," jelas dia.

Baca juga: Fraksi Partai NasDem Tolak Fasilitas Isoman di Hotel Berbintang

Lebih jauh dia mengingatkan agar pasien harus terus melakukan pemantauan kesehatan secara mandiri untuk melihat perkembangan kondisi kesehatan. Jika terjadi pemburukkan, segera hubungi Satgas covid-19 dan Rumah Sakit terdekat untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

“Semakin banyak masyarakat yang mengetahui petunjuk isolasi mandiri, maka hal tersebut dapat membantu menaikkan angka kesembuhan dari covid-19. Protokol kesehatan ini menjadi penting bagi pasien covid-19,” urainya.

Menanggapi hal ini, Direktur Pengembangan Bisnis Kimia Farma Apotek Muhardiman mengatakan masyarakat tidak seharusnya melakukan panic buying obat dan vitamin. Masyarakat perlu memahami ada beberapa obat yang termasuk dalam kategori obat keras dan hanya bisa didapatkan berdasarkan resep dokter.

"Untuk menanggulangi kelangkaan obat, kami berusaha tetap menjaga stok dan ketersediaan obat," ujarnya.

Terkait hal tersebut, Kimia Farma telah bekerjasama dengan Kemenkes RI melalui farmaplus untuk memberikan data ketersediaan obat. Sehingga, masyarakat dapat mengakses informasi tersebut dengan mudah.

"Kami berkomitmen untuk menyajikan data secara real time sehingga masyarakat dapat mengetahui data ketersediaan obat sehingga tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat,” tukas Muhardiman.(OL-5)

BERITA TERKAIT