23 July 2021, 17:40 WIB

MUI : Prof Huzaemah Tahido Yanggo Sosok Ulama Perempuan yang Langka


Zubaedah Hanum | Humaniora

MUI
 MUI
Pertemuan terakhir KH Asrorun Niam dengan Prof Huzaemah pada 31 Mei 2021 lalu.

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) kembali berduka atas kepergian Ketua Bidang Fatwa MUI Periode 2015-2020, Prof Huzaemah Tahido Yanggo, 74, Jumat (23/7) pagi, setelah berjuang melawan Covid-19.

“Saya bersaksi beliau orang yang sangat baik. Beliau sosok ilmuwan wanita yang langka, ” ujar Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh dilansir dari laman MUI.

Secara pribadi, Kiai Niam banyak berhutang budi kepada sosok Prof Huzaemah. Sejak pendidikan sarjana sampai doktor, Kiai Niam selalu belajar dengan Prof Huzaemah. Selain itu, di Komisi Fatwa, dia juga banyak bercengkerama dengan Prof huzaemah.

Asrorun Niam Sholeh mengisahkan, sejak menginjakkan kaki pertama kali di Jakarta pada 1994,  ia sudah menimba ilmu kepada Prof Huzaemah. Bahkan pada periode 2015-2020, dia kerap mendampingi sosok Prof Huzaemah memimpin sidang fatwa MUI.

“Sejak 1994 saya belajar dengan beliau bahkan hingga jenjang pendidikan formal di S3. Beliau juga yang dengan tekun membimbing saya menulis disertasi. Saat di Komisi Fatwa MUI, kami rutin bersama. Beliau aktif baik kehadiran fisik maupun pemikiran-pemikirannya,” ujar dia yang terakhir bertemu dengan Prof Huzaemah pada 31 Mei 2021 di Hotel Millenium Jakarta saat peluncuran buku “Dinamika Fatwa MUI dalam Satu Dasawarsa, Potret 10 Tahun Perjalanan Komisi Fatwa.”

Saat ini almarhumah tercatat sebagai guru besar di bidang fikih perbandingan. Aktif mengajar dan mendedikasikan ilmunya di berbagai tempat perkhidmatan. Pernah menjadi pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, hingga sekarang sebagai Rektor IIQ Jakarta.

Prof Huzaemah yang dilahirkan di Donggala, Sulawesi Tengah, itu sudah lama berkhidmah di MUI di bidang fatwa. Beliau malang melintang mulai dari anggota, wakil ketua, ketua, ketua bidang, sampai kembali menjadi wakil ketua komisi fatwa. Dedikasi Prof Huzaemah, tutur Asrorun Niam, sangat luar biasa khususnya di bidang hukum Islam/syariah dan perbandingan madzhab.

“Beliau adalah sosok pengabdi ilmu pengetahuan dan aktif di berbagai perkhidmatan. Banyak buku yang beliau tulis dan diterbitkan sebagai peninggalan yang tidak terlupakan,” katanya.

Sejak awal pandemi berlangsung, penyabet gelar doktoral bidang fikih Islam dari Al-Azhar Mesir itu termasuk sosok yang intensif mengawal fatwa MUI terkait penanggulangan Covid-19.

“Beliau berjuang melawan Covid-19. Beliau telah berbuat banyak untuk menanggulanginya. Allah SWT memiliki rencana dan keputusan terbaik. Saya bersaksi beliau min ahlil khair. Semoga Allah SWT menjadikan beliau ahlul Jannah tanpa hisab. Syahidah akhirah. Alfatihah, ” ucap Asrorun Niam. (H-2)

BERITA TERKAIT