23 July 2021, 16:33 WIB

50.000 Anak Terinfeksi Covid-19 Selama Juni dan Juli


Selamat Saragih | Humaniora

AFP
 AFP
Seorang guru di Singapura mengecek suhu tubuh anak murid sebelum memulai pelajaran di kelas. Sekolah mulai dibuka 2 Juni 2020. 

SEBANYAK 50.000 anak terinfeksi Covid-19 selama Juni dan Juli. Hal itu diungkapkan Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemkes), Erna Mulati. Di masa pandemi Covid-19 ini memang terjadi peningkatan yang cukup besar penularan pada anak, terutama dalam 2-3 minggu terakhir.

“Dari data yang kami peroleh sejak awal Juni 2021 sampai 11 Juli 2021, terdapat sekitar 50.000 lebih anak Indonesia yang terpapar Covid-19 dari usia 0-18 tahun. Tentu ini jauh lebih besar dari bulan-bulan sebelumnya,” kata Erna pada konferensi pers daring terkait Hari Anak Nasional 2021, di Jakarta Jumat (23/7).

Baca juga: 37 Tahun Ratifikasi CEDAW, Indonesia Wajib Penuhi Hak Korban Pemerkosaan

Dia menyebutkan, tingginya jumlah anak yang terinfeksi Covid-19 ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap potensi masalah yang mungkin timbul. Tidak saja bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat dan pemerintah.

Karena itu, Erna menyebutkan, sejak awal pandemi Covid-19, Kemkes menekankan agar keluarga sebagai orang terdekat anak untuk memiliki peran yang aktif dan mempunyai literasi yang cukup baik dalam menjaga anak-anak.

Erna menambahkan, ada beberapa hal dilakukan pemerintah melalui Kemkes untuk menjaga anak dari penyebaran Covid-19. Misalnya, mendorong orang tua untuk memberikan informasi yang mudah dimengerti dan benar terkait dengan pencegahan atau agar anak tersebut tidak terkena Covid-19. 

Selain itu, lanjutnya, proaktif agar anak dapat divaksinasi, khususnya bagi anak usia 12-17 tahun.

Selain itu, lanjutnya, Kemkes juga memberikan edukasi kepada anak terkait protokol kesehatan (prokes) seperti cara memakai masker yang baik dan benar. Kemudian, kebiasaan baru lainnya adalah selalu mencuci tangan menggunakan air mengalir atau hand sanitizer serta menjaga jarak antara satu dengan lainnya.

Erna menambahkan, anak yang mempunyai faktor risiko terinfeksi Covid-19 harus menghubungi puskesmas setempat. Pasalnya, ada dua bahaya yang timbul pada anak ketika terinfeksi Covid-19.

Pertama, tanpa gejala sehingga anak menjadi sumber penularan bagi anggota keluarga tanpa disadari atau diketahui oleh anggota keluarga tersebut.

Kedua, anak yang mempunyai komorbid dalam bentuk gizi buruk atau memiliki penyakit kronis. Ketika terinfeksi Covid-19 kondisi mereka langsung memperburuk dan kemungkinan akan terjadi kematian. (Ssr)

BERITA TERKAIT