15 July 2021, 13:05 WIB

Survei FKUI: 48,7% Mahasiswa Kedokteran Bersedia Terlibat dalam Penanganan Pandemi


Faustinus Nua | Humaniora

Dok. Puspen TNI
 Dok. Puspen TNI
 RELAWAN: Anggota TNI mendata relawan covid-19 di Mabes TNI Cilangkap. Ribuan relawan di antaranya mahasiswa kedokteran mendaftarkan diri.

HASIL survei Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Medico-19 Research Group mencatat 48,7% mahasiswa kedokteran bersedia untuk terlibat dalam penanganan pandemi covid-19. Survei yang dilakukan pada 13 Juli - 11 Oktober 2020 itu menunjukan tingginya minat mahasiswa kedokteran untuk berkontribusi pada penanganan pandemi dan bencana di Tanah Air.

"Angka kesediaan itu tidak sama dengan angka kesiapan, di mana hanya 18,6% dari 48,7% yang dinilai siap. Ada juga yang menolak hanya 10% dan sekitar 40% sisanya menyikapi dengan netral," ungkap Gilbert Lazarus, perwakilan mahasiswa Medico-19 Research Group dalam diskusi dan peluncuran Policy Brief: Dari Edukasi hingga Vaksinasi, Kamis (15/7).
Penelitian dengan 4.870 responden itu menunjukan bahwa 1 dari 2 mahasiwa kedokteran bersedia membantu pemerintah. Dalam hal ini menjadi relawan covid-19.

Untuk diketahui, jumlah mahasiswa kedokteran di seluruh Indonesia mencapai 62.500 orang. Angka tersebut sangat besar dan sangat potensial bila bisa dioptimalkan. "Meski hanya 18% yang siap atau menunjukan tingkat kesiapan sedang, juga sekaligus menunjukan potensi mereka dalam berkontribusi," imbuhnya.

Menurutnya, alasan mahasiswa mau berkontribusi karena keterbatasan tenaga medis. Mereka memiliki rasa tanggung jawab untuk membantu, sehingga dukungan pemerintah dan pihak-pihak terkait sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesiapan mereka.

Memang sikap dan perilaku mahasiswa kedokteran cukup positif, sebanyak 70,2% yang bersedia tidak memiliki pengetahuan yang kuat. Di satu sisi ini menunjukkan betapa cepatnya perkembangan keilmuan terkait covid-19, di sisi lain menjadi PR untuk mengatasi kekurangan yang ada. Mayoritas mahasiswa memiliki tingkat pengetahuan yang sedang dan  membutuhkan dukungan lebih," tandasnya.

Dekan FKUI Prof. Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa sejak awal pandemi pihaknya sudah terlibat dalam masalah pandemi. Mulai dari memberi edukasi hingga terlibat dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat. "Di masa-masa sulit ini kita terus terlibat membantu pemerintah menyampaikan imbauan sejenis policy brief," tuturnya.

Dari awal, lanjutnya mahasiswa siap diminta bantuan menjadi relawan. Dengan perjalanan waktu magasiswa melakukan publikasi dan membantu vaksinasi khusunya di wilayah DKI Jakarta.

Lantas, kehadiran mahasiswa di tengah masayarakat menurutnya bisa meningkatkan optimisme. Hal itu merupakan wujud dari budaya Indonesia yakni gotong-royong. "Masyarakt perlu kita kasih semangat bahwa ada mahasiswa-mahasiswa yang peduli karena budaya kita budaya gotong-royong," tutupnya.(H-1)

BERITA TERKAIT