14 July 2021, 21:15 WIB

Sikapi Informasi Medsos Soal Pandemi dengan Bijak dan Teliti


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

Dok. pribadi
 Dok. pribadi
Diskusi mengenai infodemi di tengah pandemi Covid-19

DI masa pandemi COVID-19 banyak beredar berita bohong atau hoaks, terutama tentang kesehatan. Informasi yang tidak benar seputar pandemi dan vaksin Covid-19 tersebar di media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan WhatsApp.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) telah menemukan 1.670 hoaks terkait Covid-19 selama periode 23 Januari 2020 hingga 25 Juni 2021. Hal ini membuat Indonesia tidak hanya harus menangani masalah dari virus Covid-19, tetapi juga mengatasi infodemi yang terjadi di tengah masyarakat.

Untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai vaksin, Direktorat Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum, dan Keamanan, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pelita Harapan (UPH) menyelenggarakan Webinar dengan tema “No Hoax: Vaksin Aman, Hati Nyaman”, Rabu (14/7) 

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UPH Marsefio Sevyone Luhukay mengatakan, diperlukan kampanye untuk mengubah bukan hanya mindset orang, tetapi juga perilaku orang-orang sekitar kuntuk bisa lebih baik lagi dalam menyikapi apapun secara lebih bijak dan lebih sehat terutama di era digital. 

Direktur Komunikasi dan Informasi Polhukam Kemenkominfo Bambang Gunawa mengatakan, upaya-upaya pencegahan dan penanganan penyebaran Covid-19 tidak akan berhasil apabila tidak disertai dukungan masyarakat dalam mensosialisasikan 3M dan vaksinasi sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Ia menegaskan, jika banyak informasi positif yang bisa diperoleh dari internet, namun menurutnya, banyak juga informasi negatif terutama di media sosial, tidak terkecuali tentang hoaks vaksin Covid-19.

Selain itu, menurutnya generasi milenial sebagai pengguna terbesar internet memiliki peranan yang penting dalam mengkonsumsi, membuat, dan menyebarkan konten-konten positif yang menyejukkan dan menginspirasi untuk kemajuan bangsa.

“Generasi milenial harus cermat dan berani mengambil sikap melawan disinformasi dan hoaks,” tegasnya.

Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa Widodo Muktiyo mengatakan, saat ini ada ancaman baru yaitu propaganda medsos, dan bentuk ancamannya beragam mulai dari provokasi, agitasi, dan juga propaganda. 

Baca juga : PPKM Darurat : Jakarta Catatkan Penuruan Mobilitas Signifikan

Dunia digital menjadi tools tergantung siapa yang menggunakan. Oleh sebab itu menurutnya, regulasi wajib hukumnya untuk bisa mengatur dan mengendalikan dunia digital.

Ia juga mengingatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati terutama terhadap informasi tentang vaksin. Menurutnya saat ini informasi mengenai vaksin banyak “dibelok-belokkan” dan belum jelas kebenarannya. 

“Mari kita selalu ber-husnudzon, berprasangka baik, positive thinking, di dalam menghadapi dunia digital ini, apalagi melawan pandemi yang dari waktu ke waktu sebetulnya kita tidak perlu menyalahkan karena ini adalah kerja bareng kita untuk melawan bersama-sama, jangan cari benar salah” ujarnya.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19, Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, berdasarkan analisis situasi, perilaku pencegahan Covid-19 di masyarakat sepanjang masa pandemi belum konsisten dan belum sepenuhnya menjadi bagian dari norma, serta tingkat pengetahuan tentang gejala dan penularannya masih rendah.

“Untuk mengetahui dan memeriksakan gejala lebih dini ini penting, dan jangan lagi ada persepsi takut di-Covid-kan, karena kalau kita ada persepsi itu, maka kita tidak bisa memutuskan rantai penularan, kita akan terus menerus mengalami kondisi seperti ini,” jelasnya.

Siti juga menjamin bahwa vaksinasi Covid-19 aman, ia menjelaskan jika izin penggunaan darurat oleh Badan POM sudah diberikan, itu berarti aspek keamanannya sudah diperhatikan dengan baik oleh Badan POM.

Ketua Prodi Magister Komunikasi UPH Benedictus Simangunsong mengatakan ada hal-hal yang tidak disadari ketika menggunakan teknologi. Ia berpendapat jika teknologi digital membawa pada aktivitas-aktivitas yang tidak disadari bahwa kita telah memanipulasi orang lain, membuat orang lain tidak menerima informasi dengan tepat dan benar, dan juga membuat orang lain memberikan gagasan bahwa kebenaran yang akan kita munculkan itu adalah kebenaran dengan cara-cara yang negatif.

“Kita masuk ke era yang namanya post truth, bahwa kebohongan yang diulang terus menerus, itu akan dianggap sebagai kebenaran. Ini yang kemudian menjadikan teknologi atau media menjadi alat yang sangat kuat untuk mempengaruhi orang lain,” ungkapnya.

“Semakin tinggi tingkat literasi seseorang, semakin mampu melihat berbagai macam dimensi dari konten yang diterima, dan sebaliknya semakin rendah, semakin tidak mampu melihat berbagai macam dimensi dari konten yang diterimanya,” tutup Benedictus. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT