12 July 2021, 14:35 WIB

SDM Jadi Tantangan Utama Pengembangan Vaksin Merah Putih


Atalya Puspa | Humaniora

ANTARA/Dhemas Reviyanto
 ANTARA/Dhemas Reviyanto
VAKSIN MERAH PUTIH: Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat. 

UNIVERSITAS Indonesia (UI) sebagai salah satu lembaga yang mengembangkan vaksin merah putih menyatakan bahwa sumber daya manusia menjadi tantangan utama dalam proses pengembangan vaksin merah putih.

"Jumlah SDM-nya harus ditambah. Negara lain kan sistem dan SDM-nya sudah mature, jadi bisa lebih cepat transisi dari laboratorium ke industrinya," kata Koordinator dan Peneliti Vaksin Covid-19 UI Budiman Bela saat dihubungi, Senin (12/7).

Selain SDM, Budiman juga menyatakan sistem di setiap institusi pengembang vaksin perlu menjadi perhatian. Pasalnya, butuh penyesuaian di banyak aspek untuk mendukung hilirisasi penelitian, mulai dari tata kelola, pemanfaatan paten, rencana produksi, dan lain sebagainya.

Namun demikian, di tengah tantangan yang ada, Budiman menyatakan bahwa penelitian vaksin covid-19 yang dilakukan UI terus berjalan. "Mudah-mudahan awal tahun depan (2022) sudah bisa uji klinis tahap I bila dokumen-dokumen untuk penilaian safety dan efikasi berhasil dilengkapi," ucapnya.

Adapun, untuk pengembangan ke depan, pihaknya juga telah melakukan kerjasama dengan perusahaan swasta, khususnya untuk produksi secara massal. "Sudah ada perusahaan yang menjadi partner UI. Tapi tentunya berbagai sistem pendukung harus dirapihkan juga. UI membentuk joint venture dengan perusahaan swasta yang berpartner dengan mitra industri," ungkap Budiman.

Seperti diketahui Universitas Indonesia menjadi salah satu perguruan tinggi yang turut mengembangkan vaksin merah putih. Adapun, UI sendiri mengembangkan vaksin covid-19 dari empat platform, yakni DNA, RNA, protein rekombinan subunit dan virus like particles.

Terpisah, Ketua Lembaga Biomolekuler Eijkman Amin Soebandrio mengungkapkan bahwa hingga saat ini vaksin merah putih yang dikembangkan oleh Eijkman telah mencapai 90% di tahap research and developement. Dengan demikian, diharapkan awal tahun 2022 pihaknnya akan segera melakukan uji klinis tahap satu.

"Diharapkan setelahnya 8 bulan setelah itu baru bisa mendapatkan emergency use authorization," ungkap Amin. Dalam hal ini, Amin menyatakan pihaknya telah melakukan kerjasama dengan PT Biofarma di bidang industri untuk melakukan uji klinis maupun produksi ke depannya. (Ata)

BERITA TERKAIT