22 June 2021, 18:26 WIB

Waspadai Bencana Hidrometeorologi Saat Musim Peralihan


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

Antara
 Antara
Pengendara melintasi genangan air yang merendam kawasan Gedebage, Bandung, Jawa Barat.

PEMERINTAH dan masyarakat masih harus siaga menghadapi potensi bencana hidrometeorologi saat peralihan musim, tepatnya dari musim hujan ke musim kemarau.

"Di beberapa tempat itu hujan masih cukup tinggi. Bahkan, berdampak bencana hidrometeorologi, seperti genangan dan banjir. Ada berapa titik yang hujan dari minggu-minggu kemarin, juga sampai tergenang karena curah hujan tinggi," ujar Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan saat dihubungi, Selasa (22/6).

Lebih lanjut, dia menjelaskan biasanya hujan di wilayah darat disertai angin kencang. Sehingga, bencana hidrometeorologi masih berpotensi tinggi, begitu juga curah hujan tinggi yang mengakibatkan banjir dan genangan.

Baca juga: BNPB: 1.445 Bencana Alam Terjadi Hingga 20 Juni

"Selagi masih akan transisi, artinya sampai betul-betul memasuki musim kemarau. Angin biasanya kencang," imbuhnya.

Meski saat ini memasuki periode musim kemarau, namun tergolong kemarau basah. Alhasil, potensi bencana hidrometeorologi masih tinggi, seperti periode Januari-Februari, yang terjadinya curah hujan tinggi dalam sehari.

"Lautnya juga, angin kencang, hingga gelombang tinggi. Itu harus diwaspadai. Bencana hidrometeorologi, dalam artian masih hujan, belum kepada kemarau atau kebakaran hutan," pungkas Dodo.

Baca juga: Yuk, Kenali Tipe Petir di Musim Hujan

Berdasarkan prakiraan BMKG, seharusnya sejumlah wilayah di Indonesia memasuki musim kemarau. Dari beberapa daerah yang memiliki ciri musim kemarau, lanjut dia, hampir sebagiannya sudah masuk musim tersebut. Seperti, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat di bagian timur, Nusa Tenggara Timur dan beberapa wilayah Sumatera.

Dari sisi atmosfer, musim kemarau masih ditandai sifat dinamika atmosfer yang mendukung pembentukan hujan. Sehingga, dari aspek cuaca harian, sejumlah wilayah masih berpotensi hujan hingga beberapa hari ke depan.

"Unsur penentu El Nino atau La Nina itu sudah mengarah ke kondisi netral. Istilahnya netral menunju bekas dari La Lina, sehingga nuansanya masih cukup basah. Ini dicirikan kondisi muka laut yang masih hangat di wilayah Indonesia," paparnya.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT