30 May 2021, 13:23 WIB

Masyarakat Didorong Terus Rajut Kebhinekaan untuk Ketahanan Bangsa


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
 Webinar bertema “Merajut Kebhinnekaan Untuk Ketahanan Bangsa” yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha (STIAB) Smaratungga.l

INDONESIA terkenal dengan kekayaan alam dan demografis yang melimpah, beraneka ragam suku, ras, agama yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. 

Kebhinnekaan ini tentunya dapat menjadi kesempatan atau ancaman bagi bangsa dan negara. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia, haruslah selalu dijaga bersama dengan mengarusutamakan dan mengamalkan sila-sila Pancasila, terutama sila ketiga yang menegaskan perihal seluruh masyarakat Indonesia.

Kita harus bersatu untuk kesatuan bangsa Indonesia yang merupakan negara yang memiliki banyak suku bangsa, ras, dan agama.

Salah satu upaya untuk mencari solusi yang menjadikan kebhinnekaan sebagai kesempatan dalam mewujudkan ketahanan bangsa adalah melalui webinar bertema “Merajut Kebhinnekaan Untuk Ketahanan Bangsa” yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha (STIAB) Smaratungga dalam rangka Hari Raya Waisak 2565 di Jakarta, Sabtu (29/5). 

Ketua Yayasan Buddhayana, Dr. Nyanasuryanadi Mahathera dalam sambutannya mengatakan “Saya berharap agar webinar ini dapat menjadi bekal bagi para peserta dalam menjaga toleransi, kerukunan dan persaudaraan  yang dilandasi cinta kasih di Negara Republik Indonesia.”

“Sehingga kita mampu untuk menahan diri dari pandangan maupun sikap-sikap yang mendiskreditkan perbedaan primordial apapun, utamanya karena suku, ras, budaya dan adat istiadat,” jelasnya pada keterangan pers, Minggu (30/5).

”Kita harus mulai merubah pola pikir untuk saling menerima dan menghormati segala perbedaan yang ada. Lebih dari itu kita harus bisa membangun kebiasaan baru yaitu melihat hidup ini dari persamaan bukan perbedaan,” papar Nyanasuryanadi.

Menurut Nyanasuryanadi, ketika spirit toleransi dan persaudaraan yang saling mengasihi ini telah tumbuh pada setiap orang sebagai warga negara Indonesia, niscaya Bhinneka  Tunggal Ika,  walau berbeda tapi tetap bersatu maka kedaulatan dan ketahanan bangsa akan kokoh terbentuk.”

Dalam paparannya, Sudhamek juga mengemukakan bahwa salah satu solusi dari perspektif ekonomi dan bisnis dalam memaknai Bhinneka Tunggal Ika dapat melalui demokrasi ekonomi yang  inklusif demi mewujudkan kedaulatan, kesejahteraan dan keadilan. Inilah esensi ekonomi Pancasila .

“Strategi operasional ekonomi Pancasila secara Makro dikatakan inklusif karena dilakukan dengan strategi pemberdayaan UMKM,  kemitraan dan pendekatan Jaringan lintas Iman yg berbasis pada research dan innovation.,” jelas Sudhamek.

Dalam pemaparannya,Syafii Maarif dalam pemaparannya mengenai sejarah panjang Kebhinnekaan dalam pembentukan negara Indonesia,  pentingnya rajutan Kebhinnekaan dan Konsep Tunggal (seragam) vs Bhinneka.

Syafii  mengatakan “Indonesia  merupakan bangsa besar yang dianugerahi dengan beragam perbedaan seperti agama, suku, adat, bahkan bahasa.”

“Oleh karena itu kita harus menanamkan sikap toleransi dalam diri dengan terus memelihara persatuan, persaudaraan dan kerukunan antar sesama karena  Bhinneka  Tunggal Ika merupakan nilai bangsa yang harus terus dijaga,” paparnya.

Ia juga mengatakan suatu perbedaan itu dipahami dan dibiarkan dalam rangka mewujudkan persatuan kesatuan bangsa. Dengan kata lain keanekaragaman bangsa dihormati dalam wadah kesatuan bangsa Indonesia.

 Hal ini juga selaras dengan semboyan yang menggambarkan secara jelas prinsip penghormatan keaneka ragaman dalam wadah persatuan, yakni Bhinneka Tunggal Ika.

“Oleh karena itu Kebhinekaan harus dipahami sebagai sebuah kekuatan pemersatu bangsa yang keberadaannya tidak bisa dipungkiri. Kebhinnekaan juga harus dimaknai sebagai sebuah keragaman yang mempersatukan, menerima perbedaan sebagai sebuah kekuatan, bukan sebagai ancaman ataupun gangguan,” jelas Syafii.

Menurut Syafii, semua budaya, agama dan suku yang ada tetap pada bentuknya masing-masing, di mana yang mempersatukan semua itu adalah rasa nasionalisme dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

“Bhinneka Tunggal Ika tidak bisa dianggap hanya sekedar semboyan, melainkan harus dihayati, disimpan pada sanubari dan dilaksanakan oleh setiap warga negara Indonesia untuk menjaga persatuan dan kesatuan negara. Pada prinsipnya, semboyan bangsa,” jelasnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT