18 May 2021, 11:55 WIB

Epedemiolog: Evaluasi Penyebab Naiknya Kematian Akibat Covid-19


Atalya Puspa | Humaniora

ANTARA/ Sigit Kurniawan
 ANTARA/ Sigit Kurniawan
ANGKA KEMATIAN: Petugas membawa peti jenazah korban covid-19 untuk dimakamkan di TPU Srengseng Sawah Dua, Jakarta, Kamis (11/3/2021).

PERSENTASE kematian akibat covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir ini. Menanggapi hal tersebut epidemiolog UGM, dr. Riris Andono Ahmad  meminta pemerintah perlu melakukan evaluasi manajemen pengendalian pandemi terutama terhadap kasus kematian akibat covid-19 di Tanah Air.

“Perlu evaluasi case manajemen, bottle neck -nya ada dimana?" ungkapnya dalam keterangan resmi, Selasa (18/5). Melalui evaluasi tersebut diharapkan dapat segera diketahui faktor mana saja yang berkontribusi besar terhadap angka kematian akibat covid-19. Selanjutnya dapat dilakukan perbaikan secara efektif terhadap faktor penyumbang penyebab kematian tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun Satgas Covid-19, pada 15 Mei 2021 angka kematian akibat covid-19 sebesar 2,76 persen yang meningkat dari sebelumnya per Februari 2021 sebesar 2,75 persen. Sementara, persentase kasus angka kematian akibat covid-19 di dunia sebesar 2,07 persen.

Riris mengatakan penyebab pasti kematian akibat covid-19 tidak bisa diketahui tanpa adanya audit kematian. Banyak faktor yang bisa memengaruhi hal tersebut, salah satunya misalnya terkait akses layanan kesehatan. Lalu, terkait bagaimana layanan kesehatan mampu mengelola kasus yang ada secara adekuat dan bermutu.

“Sekarang titik letaknya ada dimana? Bisa saja, misalnya terkait akses dimana pasien covid-19 berat berasal dari kalangan sosial ekonomi menengah ke bawah dan akses mendapatkan layanan kesehatan lebih sulit dan sampai ke layanan kesehatan lambat sehingga kemungkinan terjadi kematian sangat besar,” urainya.

Selain itu, juga terkait dengan sistem rujukan. Meskipun saat ini telah ada sistem rujukan, Riris mengatakan, sistem yang ada belum dikondisikan pada situasi pandemi saat ini yang membutuhkan kecepatan penanganan. Karena tidak adanya sistem rujukan cepat menjadikan layanan terhadap pasien covid-19 berat berjalan lambat. Akibatnya, memperbesar kemungkinan terjadinya kematian.

“Lalu, faktor lain adanya varian baru covid-19 yang dikabarkan memiliki tingkat penularan lebih tinggi. Namun, ini semua hipotetikal, mana yang memengaruhi secara riil di lapangan belum diketahui secara pasti,” terangnya.

Untuk menekan angka kasus kematian akibat covid-19, dikatakan Riris, tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah dengan mengevaluasi manajemen kasus terhadap kematian akibat covid-19 di Tanah Air. Namun, masyarakat juga diharapkan dapat mengambil bagian dengan displin menjalankan protokol kesehatan dengan mematuhi 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. “Masyarakat harus tetap menjalankan prokes, 5M, yang menjadi senjata unggulan untuk mencegah covid-19,” tegasnya. (H-1)

BERITA TERKAIT