09 May 2021, 17:37 WIB

Masih Banyak Kerumunan, Satgas Minta Posko PPKM Dioptimalkan


Atalya Puspa | Humaniora

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
Ilustrasi

JURU Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito meminta agar pemerintah daerah mengoptimalkan keberadaan posko PPKM mikro yang ada di wilayahnya masing-masing untuk mengontrol adanya potensi kerumunan di ruang publik.

"Satgas meminta kepada semua untuk mengoptimalkan posko dan penegakan disiplin dalam penegakan protokol kesehatan di lapangan. Saya juga meminta kepada kita semua jangan berpuas diri karena masih ditemukan pelanggaran di lapangan," kata Wiku, Minggu (9/5).

Saat ini sendiri, Wiku menyatakan bahwa terdapat 18.802 posko PPKM mikro yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Ia juga mengingatkan kepada masyarakat agar jangan sampai terjadi kerumunan lagi seperti di mal dan fasilitas publik lainnya, khususnya menjelang Idul Fitri.

"Penting untuk kita ingat protokol kesehatan harus dilakukan di manapun termasuk di fasilitas publik. Jangan sampai hal itu terjadi berulang kembali karena berpotensi meningkatkan angka penularan yang selanjutnya," bebernya.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa saat ini terdapat varian baru covid-19 di Indonesia yakni B117, B1617, dan B1351 yang lebih cepat menyebar.

"Karena itu sebagai langkah pencegahan, pemerintah melakukan pengawasan yang ketat di pintu masuk wilayah Indonesia termasuk pelaku perjalanan," pungkas Wiku.

Epidemiolog dan Ahli Pandemi dai Griffith University Dicky Budiman memperkirakan dengan adanya varian baru covid-19 dan longgarnya mobilitas masyarakat, Indonesia bisa mengalami lonjakan kasus hingga 40%.

Baca juga : Tingkatkan Testing dan Tracing untuk Cegah Penyebaran Covid-19

"Rata-rata lonjakan kasus tanpa adanya varian baru saya amati bisa 10% - 20%. Apalagi dengan adanya barian baru yang lebih vepat benyebar, bisa sampai 2 kali lipatnya, bisa sampai 40%," kata Dicky.

Namun demikian, lonjakan kasus tersebut bisa saja tidak terekam oleh data pemerintah. Pasalnya, Dicky menilai saat ini kendala klasik yang masih terus dialami Indonesia yakni angka testing yang rendah.

"Kalau ada peningkatan belum tentu ketemu, baik itu secara kasus laporan harian maupun RS. Karena saat ini angka testing masih rendah, dan banyak masyarakat yang melakukan perawatan sendiri," ucap Dicky.

Dicky mengingatkan bahwa kasus covid-19 layaknya fenomena gunung es. Di permukaan memang terlihat baik-baik saja, seperti yang dialami Indonesia saat ini. Namun ternyata setelah diselami banyak permasalahan dan akhirnya membuat kasus covid-19 bisa meledak kapan saja.

"India juga awalnya begitu, aman-aman saja. Jadi jangan anggap Indonesia ini aman, enggak," tegasnya.

Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah dan masyarakat untuk melakukan langkah proaktif dalam mencegah ledakan kasus covid-19.

"Pemerintah harus benar-benar menguatkan aspek 3T, dan rakyat juga harus proaktif," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT