09 May 2021, 14:17 WIB

PERSI Diwanti-Wanti untuk Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19


Atalya Puspa | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi
Lonjakan kasus covid-19

SEKRETARIS Jenderal Persatuan Rumah Sakit Indonesia Lia G. Partakusuma mengungkapkan dinas kesehatan di seluruh Indonesia telah mewanti-wanti kepada rumah sakit agar melakukan persiapan untuk mengantisipasi lonjakan kasus covid-19 pascalebaran.

"Kami dari RS sudah dikumpulkan beberapa kali dan diberikan briefing untuk kesiapan pascamudik lebaran," kata Lia saat dihubungi, Minggu (9/5).

Adapun, hal-hal yang perlu dipersiapkan yakni penambahan tempat tidur, ruang ICU, oksigen, dan ventilator. Hal-hal tersebut dikatakannya telah ada sejak membludaknya kasus covid-19 di Indonesia beberapa waktu lalu dan tinggal direaktivasi.

Adapun, saat ini Ia menyatakan bahwa rumah sakit yang paling kewalahan dalam menghadapi lonjakan kasus yakni berada di wilayah Sumatera Utara.

"Saat ini memang baru beberapa provinnsi yang tempat tidur RS mulai naik. Tapi yang lain sudah harus jaga-jaga juga," bebernya.

Namun demikian, PERSI optimistis dapat menangani potensi lonjakan kasus yang kemungkinan terjadi di Indonesia setelah Idul Fitri. Pasalnya, pembelajaran sudah didapatkan dari kejadian lonjakan kasus yang sebelumnya pernah terjadi.

Baca juga : Nadiem Bertekad Segera Hapus 3 Dosa Besar Pendidikan 

Sebelumnya, Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Erlina Burhan mengingatkan mengingatkan Indonesia berpotensi mengalami gelombang kedua covid-19. Hal tersebut dilihat dari sejumlah indikasi yang ada saat ini.

"Gelombang kedua akan berpotensi kalau kita tidak waspada atau kita abai. Hal itu dapat dilihat dari indikasi terjadinya peningkatan tren kasus positif harian rawat inap yang naik 1,28%, dan tingkat kematian naik menjadi 20,7%," kata Erlina.

Terlebih lagi, kata Erlina, kini varian baru yang lebih cepat menyebar seperti B117, B1351 dan B1617 sudah masuk di Indonesia. Hal tersebut berpotensi memicu peningkatan kasus baru di Indonesia yang lebih masif.

"Selain itu, untuk mencapai herd immunity dari vaksinasi Indonesia masih jauh. Karena kini cakupan vaksinasi baru 15 juta dan untuk mencapai herd immunity harus mencakup 180 juta orang yang divaksin. Penluaran masih rentan dan ini memicu terjadinya mutasi virus," bebernya.

Ia menyatakan, melihat hal tersebut, Indonesia harus belajar dari sejumlah negara yang berhasil menekan laju penyebaran covid-19.

"Di vietnam, mereka melakukan deteksi masif, melakukan karantina terhadap kontak dan traveler, dan taat protokol kesehatan. Dan juga yang penting dilakukan ialah komunikasi efektif kepada masyarakat dengan membangun narasi yang konsisten dan selaras. Hal itu juga yang dilakukan New Zeland dan Australia untuk menekan kasus covid," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT