30 April 2021, 19:00 WIB

Ini Upaya Kemendikbud Pupuk Toleransi dari Bangku Sekolah      


Faustinus Nua | Humaniora

Antara/Siswowidodo
 Antara/Siswowidodo
Murid sekolah di Madiun, Jawa Timur, menggelar makan bersama antarsekolah jelang Natal 2019

SEBAGAI negara yang memiliki keberagaman agama, budaya, ras dan suku bangsa, toleransi menjadi faktor penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Isu-isu, kejadian dan masalah-masalah intoleransi yang marak belakangan ini kembali menjadi tantangan bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat toleransi.

Plt. Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Irsyad Zamjani mengungkapkan, munculnya masalah intoleransi merupakan PR bagi dunia pendidikan. Masyarakat mulai mempertanyakan peran pendidikan dalam memperkuat nilai-nilai toleransi dan pengahragaan terhadap keberagaman.

"Sebenarnya dari tahun ke tahun kebijakan kita di Kemendikbud selalu sama, bagaimana kita bisa menjadikan pebdidikan ini sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai luhur tersebut," ungkapnya dalam diskusi virtual Menyemai Toleransi di Bangku Sekolah, Jumat (30/4).

Komitmen itu pun semakin kuat belakangan ini untuk melawan intoleransi. Menteri Nadiem Makarim, menurutnya sejak awal sudah merilis ada 3 dosa besar yang tidak boleh terjadi dalam dunia pendididkan seeprti perundungan, pelecehanan seksual dan intoleransi. 

Kemendikbud juga punya profil pelajar Pancasila dengan 6 prinsipnya. Semuanya itu bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai toleransi melalui dunia pendidikan.

"Meskipun secara umum mayoritas masyarakat sangat toleran tapi komponen atau elemen dalam masyarakat masih perlu disadarkan atau diperkuat kesadarannya. Salah satunya mulai dari bangku sekolah," imbuhnya. 

Baca juga : IDAI: Penuhi Imunisasi Dasar Anak Sebelum PTM

Lebih lanjut, dia menjelaska pudar atau hilangnya nilai dan semangat toleransi itu muncul karena 3 hal. Pertama pemahaman, baik terkait agama seperti pemahaman agama yang kurang pas, terlalu tekstual, dan menganggap apa yang tertulis dalam kitab suci harus dengan serta merta diterapkan. Padahal butuh intepretasi untuk mengimplementasikannya.

Kedua keteladanan yang menjadi isu penting karena tidak semua orang punya akses ke kitab suci atau bisa membaca dan memahami budaya. Tapu mereka mencotohi orang-orang yang memahami atau orang yang punya otoritas. Bila yang dianggap punya otoritas tidak melakukan praktek keagaaman atau kebudayaan yang bemar tentu saja akan memeberi contoh yang kurang baik.

"Terakhir tentu saja lingkungan, lingkungan sisioal politik, sosial budaya. Dari kebijakan, diskursus sosial, media sosial itu juga sangat berpengaruh bagaiamana orang berperilaku dan memahami sesuatu," tuturnya.

Oleh karena itu, perlu ekosistem yang kuat untuk mendorong agar pemehaman yang baik, mendorong agar pemegang otoritas memberi teladan yang baik. Kemudian lingkungan sosial polituk, sosial budaya pun memiliki posisi untuk membentuk perilaku toleran.

"Melalui pendidikan atau bangku sekolah bisa kita mulai. Melalui sekolah kita mengajarkan terkait keagaamaan, kebudayaan yang kontekstual. Melalui bangku sekolah guru-guru juga bisa didorong menjadi teladan yang bisa dicontohi s8swanya sehingga mereka punya pemahaman yang toleran. Dan melaui sekolah kita bisa membangun iklim sekolah yang menfasilitasi siswa untuk mempunyai pemahaman keagamaan yang toleran," tandasnya.(OL-7)

BERITA TERKAIT