24 April 2021, 17:19 WIB

15 Jurnalis Lolos Journalist Fellowsea Menjaga Laut


Palce Amalo | Humaniora

MI/Sumaryanto Bronto
 MI/Sumaryanto Bronto
Ilustrasi sejumlah penyelam menikmati pemandangan bawah laut di wilayah Bali.

SEBANYAK 15 jurnalis dari berbagai wilayah di Indonesia berhasil mendapatkan dukungan program pendanaan peliputan isu kelautan dan perikanan dalam bingkai jurnalisme data. Acara itu digelar The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bersama Yayasan EcoNusa.

Jurnalis yang lolos ialah Bhekti Suryani (Harian Jogja), Abdus Somad (Jaring.id), Kennial Caronine Laia (Betahita), Yogi Eka Syahputra (Mongabay Indonesia), Palce Amalo (Media Indonesia) da Siwi Nur Wakhidah (Merdeka.com).

Selanjutnya, M Ashar Abdullah (Rakyat Sulsel), Ariel Kahhari (TVRI Aceh), Findamorina Muchtar (Beritamanado), Haris Prabowo (Tirto.id), Nasarudin Amin (Harian Fajar Malut) dan Adinda Zahra Noviyanti (Tempo). Berikut,Syamsu Rizal (Harian Metro Sulawesi), Girindra Wardhana (iNews Semarang) dan Muhammad Olies (Harian Pelita Baru)

Baca juga: KKP: Kegiatan Ekonomi di Laut Harus Ramah Lingkungan

Mereka terpilih dari 130 pendaftar media lokal dan nasional yang tersebar di sejumlah provinsi. Serta, melewati dua tahap seleksi ketat yang berlangsung sejak Maret 2021.

Pada tahap pertama, seleksi dilakukan dengan memilih 30 jurnalis untuk mengikuti enam sesi kelas belajar Journalist Fellowsea Menjaga Luat dengan Jurnalisme Data. Mereka mendalami isu kelautan dan perikanan dari sejumlah narasumber dan fasilitator jurnalisme data.

Sedangkan pada tahap kedua, hanya 15 jurnalis yang berhak mendapatkan pendanaan untuk merealisasikan liputannya. Koordinator Kelas Belajar Journalist Fellowsea Adi Marseila menjelaskan isu yang ditawarkan para pendaftar sangat beragam.

Baca juga: Gandeng Sekolah Jurnalisme MI, Kemendikbud Bangun Branding Vokasi

"Mulai dari konservasi satwa laut, dampak pembangunan di wilayah pesisir, dampak perubahan laut terhadap masyarakat lokal, alih fungsi ekosistem  pesisir, hingga dampak kapal asing bagi nelayan Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (24/4).

"Data sheet dan tools yang dipelajari di kelas belajar menjadi alat yang bisa membantu untuk menemukan cerita yang berkaitan dengan masyarakat yang didukung dengan data," imbuh Adi. 

Ketua Umum The Society of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ) Rochimawati menyebut tingkat partisipasi pendaftar yang tinggi menunjukkan isu kelautan dan perikanan masih mendapat perhatian besar jurnalis Indonesia.

"Ini kabar menggembirakan, padahal hanya dua minggu publikasi. Isu kelautan dan perikanan yang diangkat dalam proposal peliputan juga sangat beragam. Ini menunjukkan potensi kekayaan laut Indonesia yang besar dan kejelian jurnalis dalam memilih angle peliputan," tutur Rochimawati.

Baca juga: Kepala BMKG Curhat ke Mega: Info Bencana Kalah dari Berita Artis

Founder dan CEO Yayasan Econusa Bustar Maitar mengapresiasi acara ini, yang juga menjadi tantangan bagi jurnalis untuk belajar menampilkan informasi aktual, berkualitas dan mendorong perubahan. Terutama menyangkut isu laut di Indonesia. 

"Harapannya publik tidak merujuk pada jurnalis asing, tapi mendorong jurnalis di Indonesia menampilkan informasi yang berkualitas. Tidak hanya di nasional, tapi juga di daerah," kata Bustar.

Jurnalis yang terpilih berhak mendapatkan pendanaan peliputan sebesar Rp5 juta. Setelah kelas belajar, para jurnalis didampingi mentor akan merealisasikan proposal liputan isu kelautan dan perikanan dalam bentuk karya jurnalistik berbasis jurnalisme data. Adapun penghargaan untuk jurnalis mencapai Rp22,5 juta.(OL-11)

BERITA TERKAIT