19 April 2021, 12:05 WIB

Badan POM Dampingi 15 Riset Herbal Covid-19 termasuk VCO


Zubaedah Hanum | Humaniora

CDC
 CDC
Vaksin korona penyebab covid-19.

INDONESIA memiliki potensi bahan alam yang cukup berlimpah dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman. Data Riset Obat dan Jamu mencatat dari spesies tanaman yang ada, 2.848 diantaranya merupakan tumbuhan obat  yang tersebar pada 405 etnis di 34 provinsi.

Karena itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Riri Indriani mengatakan potensi bahan alam Indonesia memberi peluang besar untuk dimanfaatkan.

"Sebagai produk jamu, maupun obat herbal terstandar dan fitofarmaka, termasuk sebagai terapi adjuvan Covid-19," ujarnya dalam sebuah webinar membahas hasil studi efektivitas minyak kelapa murni (virgin coconut oil/VCO) sebagai antivirus covid-19, dilansir dari laman Universitas Gadjah Mada, Senin (19/4).

Ia menyampaikan, Badan POM melakukan pendampingan terhadap 15 penelitian herbal terkait Covid-19 yang memanfaatkan bahan alam.

Dua dari 15 penelitian itu, terang Riri, sudah selesai menjalani uji klinik. Sebanyak 4 penelitian masih dalam tahapan uji klinik, 5 penelitian tahap penyusunan protokol uji klinik, 1 penelitian tahap uji pra klinik, dan 3 penelitian dalam tahap penyusunan protokol uji praklinik.

"Untuk uji praklinik ditujukan sebagai antiinflamasi, daya tahan tubuh, antipiretik dan anti-Covid-19," jelasnya.

Dari penelitian yang telah berjalan tersebut ia menyampaikan terdapat beberapa pembelajaran yang dapat diambil. Misalnya, saat uji praklinik  ada kesulitan menemukan hewan model yang bisa menggambarkan patofisiologi Covid-19 pada manusia secara menyeluruh.

Tahap uji klinik juga tidak mudah  dilakukan dalam kondisi pandemi karena banyak faktor yang memengaruhi validitas hasil akhir uji klinik.

Persoalan lain yang ditemui seperti ukuran sampel, populasi subjek, hingga kategori subjek. Selain itu, manifestasi klinik pasien Covid-19 yang beragam menuntut peneliti lebih cermat dalam menentukan definisi operasional perbaikan gejala klinis.

Mengingat besarnya potensi bahan alam yang ada ia menekankan penemuan dan pengembangan obat herbal untuk terus dikembangkan hingga menuju hilirisasi produk. Dalam pengembangannya perlu dukungan dan sinergi dari berbagai pihak, termasuk dari para akademisi/ perguruan tinggi

“Badan POM pun akan selalu hadir mendukung upaya hilirisasi produk obat bahan alam,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Badan POM Penny K Lukito menyebutkan pihaknya mendampingi riset 14 herbal untuk pengobatan Covid-19. Ramuan herbal tersebut sebagai peningkat daya tahan tubuh atau imunodulator.

Adapun, ke-14 herbal tersebut adalah cordycep dan deteflu, ekstrak daun jambu biji, health tone oil, avimac, virgin coconut oil (VCO), ekstrak etanol ketopeng China, golerend penglar, dan minyak atsiri daun. Selanjutnya, ecalyptus, awer-awer, innamed COV, jamu purwarupa, vipalboemin, bejo, dan health tone.

Dari hasil pilot studi yang dilakukan di empat rumah sakit di Yogyakarta, peneliti UGM menemukan bahwa minyak kelapa murni (VCO) efektif membunuh virus dan mencegah perberatan penyakit covid-19.

“VCO dapat menurunkan marker inflamasi pada penderita Covid-19 sehingga diharapkan dapat mencegah perberatan penyakit,” ujar dr Ika Trisnawati SpPD, KP, FINASIM, pakar pulmonologi FKKMK UGM sekaligus Ketua Tim Airbone Disease RSUP Dr Sardjito.

Ia menjelaskan, penggunaan VCO dalam terapi Covid-19 ini dilatarbelakangi kandungan VCO yang telah diketahui memiliki aktivitas antivirus yang baik seperti asam laurat (C12) dan monolaurin (ML) beserta derivatnya.

“VCO merupakan medium chain fatty acids (MCA) yang mengandung asam laurat diubah menjadi monogliserida monolaurin yang mempunyai efek antiviral dengan cara menghancurkan membran lipid virus,” jelasnya.

Seperti pada sabun, VCO bekerja dengan merusak membran sel pada virus. Saat VCO masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi monolaurin yang saat berinteraksi dengan membran sel virus dan akan merusak lapisan lipid pada sel tersebut. Dengan begitu, membran sel virus menjadi rusak dan tidak berfungsi.

Dalam pilot studi di 4 rumah sakit tersebut Ika mengungkapkan adanya hasil yang signifikan (p<0,05) penggunaan VCO dalam menurunkan TNF pada  kelompok VCO dibandingkan plasebo. Selain itu, terdapat penurunan marker inflamasi antara alain CR, ferritin, dan IL6 meskipun tidak siginifikan secara statistik.

Temuan lain menunjukkan adanya penurunan D Dimer dan ferritin yang signifikan (p<0,05) baik sebelum maupun setelah intervensi pada kelompok VCO. Lalu, terjadi penurunan CRP, IL6 dan procalcitonin, tetapi tidak signifikan. (H-2)

BERITA TERKAIT