17 April 2021, 17:20 WIB

PPNI Siap Kawal Proses Hukum Kasus Penganiayaan Perawat


Faustinus Nua | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Ilustrasi

PERSATUAN Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mengutuk keras kasus perawat RS Siloam Sriwijaya, Palembang yang dianiaya keluarga pasien hingga memar parah. Ketua Umum PPNI Harif Fadhillah pun memerintahkan jajaranya untuk melakukan langkah hukum dan mengawal kasus tersebut hingga tuntas.

"Kami akan mengawal anggota yg saat ini sudah melaporkan ke kepolisian dan kami dukung tindakan hukum yang dilakukan, sebagaimana diketahui pelaku sudah ditahan dalam rangka pemeriksaan polisi," ungkapnya kepada Media Indonesia, Sabtu (17/4).

Harif mengatakan bahwa DPP PPNI sudah memerintahkan DPW PPNI Sumatera Selatan, DPD PPNI Kota Palembang, DPK PPNI RS Siloam Sriwijaya, Bidang Hukum dan Pemberdayaan Politik DPP PPNI, dan Badan Bantuan Hukum (BBH) PPPNI untuk melakukan langkah-langkah hukum terhadap pelaku kekerasan bersama pihak RS Siloam Sriwijaya Palembang. Salanjutnya, PPNI akan melakukan pendampingan agar kasus tersebut diselesaikan sesuai hingga tuntas.

"PPNI melakukan pengawalan dan pendampingan perawat pada kasus ini agar sesuai dengan koridor hukum dan pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku dan juga mendorong pihak RS Siloam Sriwijaya melakukan pendampingan dan pengawalan juga kepada perawat yang menjadi pegawainya," kata Harif.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 15/4/2021 sekitar pukul 13.40 WIB. Salah satu anggota keluarga pasien menganiaya Christina Ramauli Simatupang (28), perawat RS Siloam Sriwijaya Palembang di ruangan IPD 6 Kamar 6026.

Pelaku JC, yang diduga merupakan orangtua pasien anak tersebut, awalnya memanggil para perawat untuk menangani
anaknya. Namun tiba-tiba, korban langsung dianiaya pria bertubuh besar tersebut. Bahkan JC menjambak rambut korban dan menamparnya di dalam ruangan tersebut.

Penganiayaan tersebut pun sempat direkam oleh salah satu petugas RS Siloam Sriwijaya Palembang, hingga akhirnya viral di media sosial (medsos).

Harif mengatakan kekerasan terhadap perawat bukan baru pertama terjadi. Agar tidak kembali terulang, PPNI meminta kepada pemerintah dan pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan agar menjamin lingkungan kerja yang kondusif bagi perawat dalam melakukan tugas profesinya, termasuk dalam aspek perawat tidak mendapatkan kekerasan fisik maupun psikologis.

"Tindak kekerasan terhadap perawat yang sedang manjalankan tugas profesinya merupakan ancaman terhadap keamanan di tempat kerja dan sistem pelayanan kesehatan. Kekerasan ini juga sangat dikecam komunitas perawat seluruh dunia," kata dia.

Sementara itu, Badan Bantuan Hukum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (BBH-PPNI) mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas tindakan kekerasan tersebut.

"Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera memproses setiap tindakan kekerasan terhadap perawat yang bertugas pada kasus yang menimpa Christina Ramaulis Perawat RS. Siloam Sriwijaya Palembang sampai dengan tuntas," Ketua BBH PPNI, M Siban.

Pihaknya memastikan bahwa seluruh masyarakat telah diberikan layanan Asuhan Keperawatan berdasarkan doktrin, kode etik, sumpah profesi yang tertanam sejak menjadi seorang perawat. Para perawat dengan semangat jiwa nasionalisme yang tinggi, tulus dan ikhlas mengutamakan kepentingan pasien dan kepentingan kemanusiaan diatas kepentingan pribadinya.

BBH-PPNI juga mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum, para pemberi kerja di sektor jasa kesehatan untuk senantiasa memberikan perlindungan, keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan. Para perawat harus mendapat perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama selama menjalankan tugas kemanusiaan.

"Kami bersama PPNI pastikan akan mengawal kasus ini, semoga persoalan ini menjadi pelajaran dan terdapat hikmah bagi kita semua," tandasnya. (H-2)

BERITA TERKAIT