06 April 2021, 18:05 WIB

LIPI Akui Banjir Bandang di NTT Sulit Dimitigasi


Faustinus Nua | Humaniora

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
KEPALA Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko 

KEPALA Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengungkapkan bahwa bencana banjir bandang seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sulit untuk melakukan mitigasi. Pasalnya, bencana tersebut bukan murni banjir daratan tetapi disebabkan oleh angin kencang yang memicu naiknya gelobang laut.

"Kalau banjir bandang seperti di Kupang itu sifatnya tidak bisa dimitigasi, karena sporadis," ungkapnya kepada Media Indonesia, Selasa (6/4).

Menurut, Handoko mitigasi bencana pada prinsipnya memang harus berbasis pada studi ilmiah. Hal itu terkait fenomena dan pemahaman atas potensi bencana yang ada. Setiap bencana pun tentu memiliki kesulitan atau tantangan yang berbeda. Begitu pula pada bencana banjir yakni banjir daratan dan banjir bandang.

Dijelaskannya, banjir pada umumnya merupakan bencana yang paling mudah dimitigasi dan dikendalikan oleh manusia. Riset dan studi terkait pangkal masalah tersebut sudah banyak dikembangkan. Sehingga bisa dilakukan mitigasi melalui prediksi potensi bencananya, termasuk lokasi, kapan terjadi.

"Mitigasi banjir di daratan secara umum berupa studi DAS (daerah aliran sungai) dan curah hujan seperti studi 2D dan 3D sudah banyak," imbuhnya.

Berbeda dengan banjir bandang, riset yang dikembangkan sejauh LIPI baru pada penyebab bencana tersebut yakni siklon tropis. Di samping itu, siklon tropis yang terjadi tahun ini pun berbeda dengam yang sebelumnya.

Seperti yang dilaporkan BMKG, siklon tropis terjadi di dekat daratan. Lantas dampaknya pun sangah parah seperti yang terkadi di NTT. (OL-13)

Baca Juga: Peringatan Dini BMKG Tak Efektif Akibat Rendahnya Pemahaman Publik

BERITA TERKAIT