28 March 2021, 14:22 WIB

AGP Bersama EHJKT Memperingati Earth Hour di SCBD


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
Berkaitan dengan Earth Hour 2021, Artha Graha Peduli (AGP) mengajak semua pihak melakukan pemadaman listrik minimal satu jam.

BENCANA nonalam wabah Covid-19 dan banyaknya bencana alam menyadarkan kita untuk mencegah kerusakan alam adalah sangat penting bagi manusia untuk bertahan hidup dan membangun masa depan yang berkelanjutan. Peringatan Earth Hour 2021 menjadi sebuah moment di mana tahun 2021 adalah tahun yang krusial bagi sejarah umat manusia.

Ketika dunia mencoba untuk membalikkan keadaan dan pulih dari kerusakan akibat pandemi Covid-19 serta membangun kembali dirinya sendiri, kita perlu menempatkan alam sebagai solusi utama bagi upaya pemulihan kehidupan didunia untuk memastikan masa depan ekonomi dan masyarakat kita.

"Earth Hour adalah momen persatuan bagi individu, pemimpin, dan pecinta lingkungan agar bersama-sama menyerukan tindakan dan aksi nyata untuk mengembalikan hubungan manusia dan alam sekaligus merawat bumi untuk lestari," terang Ketua Umum Artha Graha Peduli Heka Hertanto saat peringatan Earth Hour Jakarta di Kawasan SCBD, Jakarta, Sabtu (27/3).

Heka menuturkan bahwa sepanjang tahun 2020 sampai saat ini  warga menyaksikan dunia yang hening, udara yang bersih, warga berdiam di rumah saja dan sebagainya seolah- olah dunia bisa beristirahat selama beberapa bulan. 

"Berkaitan dengan Earth Hour 2021, Artha Graha Peduli (AGP) bersama teman-teman dari Earth Hour Jakarta mengajak semua pihak untuk bersama melakukan pemadaman listrik minimal satu jam pada Sabtu (27/3) pukul 20.30 - 21.30. Khusus di AGP, Artha Graha Group (AGG) dan Artha Graha Network (AGN) akan memadamkan lampu mulai pukul 20.15-21 45 waktu setempat," jelas Heka.

Earth Hour 2021 adalah momen untuk meningkatkan komitmen kepedulian terhadap lingkungan setelah pandemi Covid-19.

Tema Earth Hour 2021 adalah keanekaragaman hayati yang  sejalan dengan kondisi belahan dunia yang masih dalam balutan serbuan virus.

Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2013, Indonesia memiliki luas wilayah 1,3 % dari luas permukaan bumi dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi (mega biodiversity), yaitu sekitar 17% dari keseluruhan jenis makhluk hidup yang ada di bumi ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan perubahan iklim saat ini berada dalam kondisi kritis. Kenaikan suhu setiap tahun ditambah curah hujan ekstrem merupakan bukti masa kritis iklim.

BMKG mencatat pada 2016 dan 2019 merupakan dua tahun terpanas di Indonesia. Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan 2019 sebagai tahun terpanas ke-2 setelah 2016.

Perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat. Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi tetapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia, seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian dan ekosistem wilayah pesisir.

"Peringatan Earth Hour 2021 yang diikuti seluruh negara  sebagai upaya mengurangi dampak pemanasan global dengan memadamkan listrik selama1 jam untuk memberikan bumi istirahat. Ini harus menjadi refleksi bagi seluruh manusia agar berperilaku lebih ramah pada satu-satunya planet yang bisa dihuni," ujar Heka Hertanto.

Senada dengan Heka, Koordinator Kota Earth Hour Jakarta Anang Ramadhan menjelaskan bahwa satu jam peringatan Earth Hour bisa jadi sangat berpengaruh pada gaya hidup sehari-hari.

"Walau sebagian orang masih menganggap enteng, bahkan remeh, tapi bila momentum switch off dijadikan gaya hidup, bakal lebih banyak orang menghemat biaya bulanan penggunaan atau pembelian token listrik. Saya rasa kesadaran juga tidak akan terbangun bila tidak ada keberlanjutan. Dimulai dari diri kita sendiri, kebaikan ini akan tertular pada orang lain" terang Anang. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT