25 March 2021, 20:46 WIB

Dewan Pers Bangkitkan Optimisme di Era Digital


Akhmad Mustain | Humaniora

MI/Vicky Gustiawan
 MI/Vicky Gustiawan
Deputi Direktur Pemberitaan Media Indonesia Ade Alawi menerima secara simbolis berkas verifikasi faktual mediaindonesia.com.

ERA Revolusi Industri 4.0 yang ditandai disrupsi digital seharusnya tidak membuat cemas media mainstream (media arus utama). Peluang untuk pengembangan berita yang berkualitas (good journalism) dan upaya mendongkrak revenue (pendapatan) masih terbuka lebar.

"Kreativitas untuk pengembangan media, seperti mediaindonesia.com, masih terbuka lebar. Inovasi dan adaptasi tak boleh mati, harus terus hidup. Dunia tak sesempit yang dibayangkan di era disrupsi digital. Dunia media online unlimited untuk berkreasi," kata Wakil Ketua Dewan Pers bidang Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi Asep Setiawan di sela-sela verifikasi faktual mediaindonesia.com di kantor Media Indonesia, Komplek Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (25/3).

Dalam kunjungannya Asep didampingi Tenaga Ahli Dewan Pers Winarto dan
Staf Sekretariat Sri Lestari. Tim Dewan Pers diterima Deputi Direktur Pemberitaan Media Indonesia Ade Alawi, Kepala Divisi Pemberitaan Media Indonesia Teguh Nirwahyudi, Asisten Kepala Divisi Pemberitaan mediaindonesia.com Victor Nababan, Asisten Kepala Divisi Pemberitaan bidang Media Sosial Henri Salomo Siagian.

Asep mengisahkan pengalamannya ketika memimpin portal berita Metrotvnews.com.

"Banyak yang kami lakukan, misalnya, penguatan konten dengan membuat berita analisis (news analysis) atau berita mendalam (indept reporting) dan wawancara tokoh setiap hari. Selain itu membuat iklan-iklan tailor made per tiga bulan. Kita ciptakan kreasi-kreasi iklan yang menarik. Kita tayangkan di website kita. Meski nilainya kecil tapi kalau berkesinambungan lumayan juga hasilnya," ungkapnya.

Mantan Head of Media Research Center (MRC) Metro TV  memaklumi jika media arus utama melakukan pengembangan ke media sosial. Pasalnya, media arus utama tak hanya perlu bertahan (survival), tetapi juga berkembang. "Sepanjang mematuhi UU NO 40/1990 dan Kode Etik Jurnalistik tidak ada masalah pengembangan tersebut dilakukan. Memang sudah nature-nya (karakternya) distribusi konten ke media sosial saat ini," ujarnya.

Terkait dengan verifikasi faktual mediaindonesia.com, Asep menekankan pentingnya trust and credibility. "Verifikasi Dewan Pers bagian dari membangun kepercayaan publik. Yang lebih penting lagi, perusahaan pers harus sehat. Idealisme tak bisa dikejar, jika perusahaan persnya sakit," ujarnya, seraya mengatakan Media Indonesia perlu mencontoh News York Times, salah satu media tertua di dunia yang berbasis di Amerika Serikat, sukses melakukan berbagai inovasi dan mempertahankan jurnalisme berkualitas.

"Pelanggan berbayarnya terus tumbuh," imbuhnya.

Media Indonesia selain mengembangan media cetak, juga mediaindonesia.com. Juga koran digital (e-paper) yang memuat berita mendalam setiap hari sebanyak empat halaman dengan desain yang menarik, berbeda dengan edisi cetak. (OL-4)

BERITA TERKAIT