24 March 2021, 17:41 WIB

Setahun Lewati Pandemi, Jangan Lengah Jaga Pola Makan


Eni Kartinah | Humaniora

Ist
 Ist
Susu merupakan sumber protein hewani dengan skor DIAAS (digestible indispensable amino acid score) yang tinggi.

SUDAH setahun lebih kita hidup di tengah pandemi Covid-19. Work from home (WFH) masih diterapkan oleh sebagian besar masyarakat. Sistem kerja WFH sangat penting sebagai bagian dari upaya 5M pencegahan Covid-19. Namun demikian, bagi sebagian orang, penerapan WFH berisiko membuat pola makan menjadi kurang sehat sehingga memicu kelebihan berat badan.

“Sejak pandemi, semakin banyak pasien baru yang datang dengan keluhan berat badan (BB),” ujar dokter spesialis gizi dr. Diana F Suganda Sp.GK, pada webinar bertajuk ‘Refleksi Setahun Pandemi, Masyarakat  Semakin Abai atau Peduli?’ , yang digelar Forum Ngobras bersama Frisian Flag, baru-baru ini.

Lebih lanjut dr Diana menjelaskan, pandemi memaksa kita untuk beradaptasi. Bekerja dari rumah, meeting dilakukan secara daring. Sejak pagi, kita sudah duduk di depan komputer atau gawai. “Rute gerak kita dalam sehari selama pandemi ini berkutat dari ruang tamu/kerja, meja makan/dapur, balik ke ruang tamu, ke teras, balik lagi ke meja makan atau kulkas. Muter saja di rumah,” paparnya .

Bagi yang enggan masak, tinggal pesan makanan secara daring. Biasanya, makanan yang dipesan tinggi kalori, garam, dan rendah serat. Minuman tinggi gula  jadi favorit, seperti kopi-kopi kekinian atau boba. “Coba, berapa banyak di antara kita yang pesannya sayur kayak gado-gado atau salad? Pasti milihnya yang enak-enak. Apalagi ada program promo. Kebayang kalau itu dilakukan sehari, dua hari, lalu setahun.”

Saat makan, banyak yang melakukannya sambil kerja, akhirnya tidak sadar berapa banyak porsi yang masuk. “Padahal kalau kita makan sambil fokus, kita sadar berapa banyak yang kita makan. Belum lagi sehabis kerja, capek, nonton film atau drama Korea. Tidak sadar terus nonton sampai larut malam, lalu lapar dan makan lagi. Jam tidur pun berkurang,” imbuh dr. Diana.

Lama kelamaan, terjadi surplus, kalori masuk lebih banyak daripada kalori keluar. Apalagi kalau yang awalnya rajin olahraga, karena pandemi tidak bisa keluar, akhirnya malas olahraga. “Yang diasup tidak sebanding dengan yang dikeluarkan. Tidak heran, banyak pasien saya yang datang dengan keluhan BB naik selama pandemi. Rata-rata, dari 10 pasien, 5 pasien mengeluhkan masalah ini,” tutur dr. Diana.

Jadi, bagaimana solusinya? Kita harus disiplin menerapkan pola hidup sehat. Untuk pola makan, sesuaikan dengan prinsip gizi seimbang, yaitu konsumsi zat gizi lengkap dengan jumlah seimbang. Cara mudahnya, ikuti panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan.

“Sesuai pedoman Isi Piringku, asupan makan kita dalam satu piring harusnya seperti ini: bagi piring jadi 3 bagian, isi 1/3-nya dengan makanan pokok (karbohidrat); 1/3-nya aneka sayur, dan 1/3-nya gabungan lauk hewani, nabati, dan buah,” terang dr. Diana.

Pengaturan jadwal makan juga penting. Atur waktu sarapan, makan siang, dan makan malam secara teratur, dengan snack di antara makan utama. Hindari snack yang tinggi kalori. Pilihlah snack sehat. Bisa buah, susu, atau kacang-kacangan.

“Ingat, protein adalah building blocks untuk imunitas kita. Kita mau bikin pertahanan, maka benteng dan tentaranya harus kuat, jadi cukupi asupan protein,” kata dr Diana mengingatkan.

Satu pesannya lagi, jangan lewatkan sarapan. Sarapan penting untuk mendapat asupan gizi sehingga konsentrasi kita baik. Meski kerja dan meeting dari rumah, tetap harus sarapan.

“Sarapan jangan asal enak dan praktis. Gizinya tetap harus lengkap dan seimbang. Harus ada karbohidrat untuk konsentrasi juga protein, serta berbagai nutrisi lainnya. Tidak usah makan besar, bisa simple food asal kandungan nutrisinya lengkap. Misalnya roti gandung dengan telur, smoothie bowl dengan yogurt dan kacang-kacangan. Bisa juga oat dengan susu,” paparnya.

Ia menambahkan, susu merupakan sumber protein hewani dengan skor DIAAS yang tinggi. DIAAS atau digestible indispensable amino acid score merupakan skor yang menilai seberapa banyak asam amino dari suatu bahan pangan protein dapat dicerna. Semakin tinggi skornya, menandakan semakin baik mutu pangan tersebut tersebut.

Pada kesempatan sama, Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia (FFI), Andrew F Saputro, mengatakan selama pandemi pihaknya turut meningkatkan literasi gizi masyarakat.

“FFI terus meningkatkan edukasi seputar kesehatan, pedoman gizi seimbang, gaya hidup sehat dan aktif. Ada beberapa kegiatan, dengan format-format digital, contohnya program Indonesia Siap. Tahun lalu kami bekerja sama dengan PKK di Jabar dan Sumsel, menjangkau 25.000 keluarga. Kami juga membuat konten-konten edukasi gizi melalui seluruh channel medsos FFI,” pungkasnya. (Nik/OL-09)

 

BERITA TERKAIT