05 March 2021, 02:20 WIB

Kebutuhan Implan Tulang Meningkat, BPPT Kembangkan Produk Lokal


Faustinus Nua | Humaniora

MI/Mohamad Irfan.
 MI/Mohamad Irfan.
Logo BPPT.

PUSAT Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) BPPT tengah mengembangkan inovasi implan tulang dengan bahan baku lokal. Produk implan tulang menjadi salah satu prioritas riset dan inovasi BPPT di bidang kesehatan dan pangan lantaran tingginya kebutuhan nasional.

"Kebutuham terhadap implan tulang di Indonesia sekitar 120 ribu per tahun dengan nilai sekitar Rp600 miliar. Sedangkan kebutuhan implan gigi pun sekitar 2.500 pieces/bulan dengan harga sekitar Rp2,5 miliar. Kalau kita lihat data di sini kurang lebih Rp75 miliar per tahun harus dikeluarkan untuk kebutuhan implan gigi," kata Direktur PTFM BPPT Agung Eru Wibowo dalam Rakornas BPPT Bidang Kesehatan dan Pangan, Jakarta, Kamis (4/3).

Dijelaskannya, kegiatan itu selain urgensi kebutuhan nasional di tengah tingginya impor di bidang kesehatan, juga sesuai arahan regulasi, baik UU maupun Permenkes. BPPT pun sudah menjalin kerja sama atau bermitra dengan industri yang mempunyai izin produksi.

Pihaknya pun mendorong produk tersebut memiliki kandungan lokal hingga 100%. Selain itu hal tersebut bisa memberikan nilai tambah seperti harga murah serta kualitas yang tidak kalah dengan produk impor.

"Kami mengharapkan produk lokal memiliki daya saing dan bisa memproduksi produk implan tulang maupun implan gigi sesuai standar medisnya," terang Agung. Lebih lanjut, PTFM menetapkan sasaran tahun ini dengan mencapai uji klinik ptototipe implan gigi, uji coba produksi semen tulang PMMA, uji dinamis komponen THA/THR, rekomendasi pengembangan instrumen implan tulang, rekomendasi percepatan adopsi dan difusi dan inovasi implan tulang.

"Ini sesuai road map 2020-2024. Di 2024 bisa mendapatkan izin edar. Harapan kami setiap tahun BPPT bisa mengeluarkan satu produk komersial yang bisa dihilirisasi yang tentu semua perlu dilakukan kerja sama dengan stakeholders lain, terutama dari Kemenkes," tambahnya.

Prioritas inovasi kesehatan lain yaitu bahan baku obat yang ditargetkan mampu menyubstitusi impor hingga 7% pada 2024 dan pengembangan riset/inovasi penanganan covid-19. Di sektor pangan, BPPT juga akan memprioritaskan pada upaya penanganan stunting di Indonesia dan inovasi yang mendukung ketahanan pangan nasional. (OL-14)

BERITA TERKAIT