13 February 2021, 19:00 WIB

Mantan Menristekdikti: 2021, BRIN Harusnya Sudah Berjalan


Faustinus Nua | Humaniora

MI/ BARY FATHAHILAH
 MI/ BARY FATHAHILAH
Mantan Menristekdikti Mohammad Nasir (tengah).

Mantan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengungkapkan bahwa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dibentuk melalui UU BRIN pada 2019 silam seharusnya sudah dapat berkerja aktif di tahun 2021 ini. Pasalnya, badan yang dirancang selama masa kepimpinannya itu hingga kini belum menjalankan amanat UU tersebut.

"Saya kan sudah buatkan skenario. Diharpakan 2020 organisasi udah selesai, semua terurus dengan baik, anggaran sudah tergenarlisasi dan 2021 udah harus jalan," ungkapnya kepada Media Indonesia, Sabtu (13/2).

Menurutnya, mengurusi bidang riset dan teknologi dalam membentuk BRIN memang tidak mudah. Butuh visi dari pemimpin dan komunikasi yang baik dengan kementerian atau lembaga lainnya. Mengingat pembentukan BRIN harus ada harmonisasi antar kementerian/ lembaga yang memiliki litbang masing-masih.

Baca juga: Agar Efektif, Pembelajaran Daring Perlu Strategi yang Baik

Terkait kandasnya Perpres BRIN di Kemenkum dan HAM, Nasir mengatakan dirinya tidak mengetahui secara pasti permasalahan tersebut. Namun, sesuai target di periode sebelumnya badan tersebut memang sudah seharusnya berjalan karena itu amanat UU.

Dia mengakui struktur organisasi yang dibangun sampai saat ini belum jelas. Hal itu mungkin saja menjadi kendala di Kemenkum dan HAM, sehingga BRIN belum bisa berjalan padahal sudah 2 tahun.

"Barangkali dengan kementerian lain harmanisasinya gak jalan. Barangakali, saya tidak tahu persisi," imbuhnya.

Dia pun menambahkan bahwa sejauh ini perkembangan riset Indonesia cukup baik. Pada 2015, bidang tersebut masih di posisi 4 untuk Asia Tenggara. Namun pada 2017 Indonesia mampu menempati rangking 2 dam 2018 menjadi rangking 1 riset di Asia Tenggara.

Di 2020, dengan adanya pandemi Covid-19 lanjutnya, sektor riset mengalami decline. Hal itu seharusnya bisa ditanggapi dengan cepat melalui hadirnya BRIN, apalagi anggaran riset nasional terbilang lebih kecil dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.

"Memang (anggaran) lebih kecil tapi kita kan refocusing (dalam BRIN), tidak semua didanai itu lho. Risetnya harus dikonsentrasikan agar jelas hasilnya. Sehingga, walaupun kita anggaran terbatas tapi kita bisa lakukan riset yang lebih baik," jelasnya.

"Harapan saya bisa terlaksana secepat-cepatnya agar dengan rset dan inovasi kesejahteraan rakyat segera terwujud berbasis inovasi yang baik," tandasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT