11 January 2021, 12:25 WIB

Kekayaan Alam Indonesia untuk Terapi Gejala Covid-19


Rendy Ferdiasnyah | Humaniora

MI/Rendy Ferdiansyah
 MI/Rendy Ferdiansyah
Hasil riset dari kekayaan asli Indonesia dan salah satunya hanya ada di Bangka Belitung menghilankan gejala awal Covid-19.

PEMERINTAH Provinsi Bangka Belitung (Babel) sangat mendukung temuan racikan anak muda Babel dalam meringankan gejala awal Covid-19. Racikan yang diberi nama Bumi Cloud ini mendapat testimoni positif dari penyintas covid-19, flu, sinus, asma dan alergi pernafasan.

"Kami sangat terbantu baik dari perizinan, pembinaan dan konseling oleh Pemprov Babel, ibu Melati Erzaldi selaku Korwil ICSB (International Council For Small Businnes) Provinsi Babel dan Sekretaris Satgas Covid-19 Babel Mikron Antariksa. Semoga Bumi Cloud bisa memberikan multiple efek bagi penangan Covid-19 dan perkembangan UMKM di Provinsi Babel," ungkap John salah satu Founder Bum Cloud, Senin (11/1)

Menurut John, dalam testimoninya banyak pengguna terapi Bumi Cloud yang terbantu. "The Biggest Issue sekarang ini covid, sebenarnya ada beberapa penyakit di saluran napas yang juga bisa terbantu dengan terapi Inhalasi dari Bumi Cloud ini terutama berkaitan dengan penyakit di sistem pernapasan," kata John.

Ia menjelaskan feedback dari pengguna Bumi Cloud yang merasa terbantu cukup banyak, sebagian bisa mereka dokumentasikan dalam bentuk video dan text. Sebagian besar tidak bisa didokumentasikan karena berbentuk lisan atau yang bersangkutan tidak ingin dipublikasikan.

Lebih menggembirakan, lanjutnya, Bumi Cloud memakai bahan-bahan yang berasal dari Indonesia, yaitu Minyak Atsiri / Essential Oil, dan ada 2 jenis Essential oil yang diambil dari Kekayaan alam Bangka Belitung.

"Essential Oil yang diperdagangkan di seluruh dunia ada 150-an Jenis, dan 50-an jenis ada di Indonesia. Berdasarkan riset kami dan juga jurnal ilmiah dari sumber terpercaya, Essential Oil itu mengandung senyawa aktif, ada yang bersifat Antibacterial, Antivirus dan Antiinflamasi. Dari situ sebenarnya Bumi Cloud itu tercetus," ungkapnya.

Ia mencontoh penyakit Influenza, itu termasuk penyakit yang disebabkan oleh Virus, dan dari pengalaman pengguna dalam 12jam an terapi Bumi Cloud, Flue akan mereda secara signifikan. "Ada pengalaman Ibu Hamil yang membaik secara signikan kurang dari 12 jam, dimana Ibu hamil biasa disarankan untuk tidak mengkonsumsi obat-obatan selama proses kehamilan,"pungkas dia.

Saat kami tanya apakah Bumi Cloud bisa menjadi Obat untuk Covid-19, John menjelaskan. Covid-19 sampai dengan sekarang tidak ada obatnya, mungkin selain vaksin dan tranfusi plasma darah adalah satu alternative pengobatan yang paling reliable saat ini.

"Bumi Cloud hadir sebagai salah satu alternatif terapi untuk mengurangi gejala atau Symtomps Covid-19, terutama gejala di saluran napas. Dengan harapan memberikan waktu bagi Antibodi untuk dapat merespon Virus lebih baik," jelasnya.

Testimoni beberapa pasien Covid-19 bergejala ringan yang menjadi negatif hasil swab nya setelah beberapa hari memakai terapi Bumi Cloud. Namun, itu tidak bisa dijadikan dasar atau Evidence Base. "Kami akan mengumpulkan data lebih banyak dan akurat dulu terkait hal tersebut," tegas dia.
 
John juga menanggapi perkembangan pemberitaan Bumi Cloud di masyarakat Bangka Belitung saat ini. "Kami berusaha dengan sedikit keilmuan yang kami miliki untuk membaktikannya ke Masyarakat dengan turut berkontribusi menjadi alternatif terapi bagi Pasien Covid-19 dan penyakit di saluran Napas.

"Ilmu pengetahuan itu bersifat sangat dinamis dan terus berkembang bukan statis atau menetap, hal-hal baru tentu harus kita sikapi dengan Open Minded, Logic dan Base on Data," jelasnya. (OL-13)

 

 

BERITA TERKAIT