24 December 2020, 02:05 WIB

Makna Natal


Prof Mudji Sutrisno SJ | Humaniora

MI/Briyan B Hendro
 MI/Briyan B Hendro
Ilustrasi MI

BILA makna Natal mau dicari dalam gemuruh nyanyi dan lagu Youtube dan CD-nya, Anda salah mencari karena kidung pengiring kelahiran-Nya hanya malam pekat. Bila arti Natal mau digali di tumpukan kado gemerlap, mungkin sekali tak tertemukan di sana karena ‘gerlap cemerlang’ pakaian bayi Yesus cuma ‘palungan: tempat makan domba’.

Bila gema Natal mau diabadikekalkan dengan ratusan jam renungan Natal dan khotbah berjilid sambut Natal, mungkin sekali gaungnya akan berhenti berdentang dalam udara hampa lantaran penerima pertama kedatangan-Nya bukan pemilik hotel mewah, tetapi para gembala jelata yang polos terbuka hati apa adanya, menangkap-Nya tanpa kata dalam suasana papa. Merekalah pewarta kabar gembira damai yang tumbuh dari dalam, tanpa poles gincu atau bedak kepalsuan.

Bila makna Natal mau didalami saat ini, jawabnya ada pada bayi mungil lemah yang menyatu dengan kita, senasib kita, jadi sesama kita yang butuh topangan, hangatnya cinta orangtua Maria dan Yusuf. Butuh proses jalan lambat berkembang jadi dewasa dengan tangan-tangan penghidup baginya.

Bila makna Natal mau didalami, mari berhimpun menghadap si kecil bayi, seraya becermin pada-Nya, menyatukan kekecilan kita di rentang hadapan kebesaran cinta Allah sambil berdecak hening: betapa tinggi harkat manusia di hadapan-Mu, ya Tuhan hingga Kau sudi mencintai secara ini. Betapa berharga tiap bayi bernama manusia hingga Kau sudi menjadi satu di antaranya buat mengangkat kami jadi anak-anak-Mu dan sesama kami menjadi saudara.

BERITA TERKAIT