25 November 2020, 03:05 WIB

Libur Akhir Tahun Lebih Mengkhawatirkan


ANDHIKA o\pRASETYO | Humaniora

Dok. covid19.go.id/Riset MI-NRC
 Dok. covid19.go.id/Riset MI-NRC
Ilustrasi MI

JURU Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengingatkan libur panjang akhir tahun ini berpotensi memunculkan kasus positif yang jauh lebih besar daripada libur-libur panjang sebelumnya.

Potensi tersebut, kata Wiku, muncul karena libur akhir tahun ini memiliki durasi lebih panjang sehingga risiko penularan menjadi lebih tinggi. “Dikhawatirkan berpotensi meningkatkan kasus menjadi dua bahkan tiga kali lipat lebih besar daripada masa libur panjang sebelumnya,” ujar Wiku di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Karena itu, pemerintah sedang mengkaji periode masa libur akhir tahun demi keselamatan masyarakat di tengah pandemi covid-19. Wiku pun mengimbau seluruh masyarakat untuk mengisi liburan dengan kegiatan di rumah. Kalau ingin liburan di luar, masyarakat harus selalu menerapkan protokol kesehatan, terutama ketika berada di tengah keramaian.

“Kami memahami, setelah berjibaku dengan pandemi sejak Maret lalu, masyarakat sudah jenuh dengan rutinitas yang kebanyakan dihabiskan di rumah. Tetapi perlu saya ingatkan, musuh kita belum hilang sepenuhnya, pandemi belum selesai,” ucap Wiku.

Dampak libur panjang terhadap kenaikan kasus positif covid-19 juga diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dalam Webinar Penanganan Kesehatan dan Pemulihan Sosial dan Ekonomi yang diselenggarakan Pemprov DKI Jakarta, kemarin, dia mengatakan imbas libur 28 Oktober-1 November lalu mulai terasa beberapa hari terakhir.

“Ketika (kasus) turun, ada long weekend yang kita laksanakan, konsekuensinya sekarang kita mulai menyaksikan kenaikan (kasus) lagi,” terang Anies.

Dia menambahkan, peningkatan penularan covid-19 juga berbanding lurus dengan banyaknya kegiatan masyarakat di luar rumah. “Mobilitas penduduk terhadap peningkatan kasus itu terasa sekali. Makin tinggi warga berada di luar rumah, makin tinggi peningkatan kasus.”

Di kesempatan yang sama, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio berpendapat mengurangi atau menghilangkan libur panjang bukan satu-satunya cara untuk menekan penyebaran virus korona. Menurutnya, solusi utama ialah peningkatan kesadaran masyarakat agar disiplin melakukan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.


Belum sadar

Amin menyebut masih ada 20%- 30% masyarakat yang tidak memercayai covid-19. Merekalah yang harus dijangkau agar sadar bahwa covid-19 itu ada dan berbahaya. Tanpa penyadaran, mereka akan terus abai terhadap protokol kesehatan sehingga dapat menyebarkan virus kepada orang lain.

Optimal tidaknya penanganan pandemi covid-19 tak hanya menyangkut kesehatan, tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemulih an ekonomi lebih bergantung pada cara pemerintah dan pemangku kepentingan lain dalam mengatasi pandemi, di luar dari harapan segera hadirnya vaksin.

Menurut Purbaya, jumlah kasus positif Indonesia sempat bisa ditekan secara signifikan, tetapi ketidakpedulian sebagian warga untuk menaati protokol membuat kasus harian kembali meningkat di November. “Angka kasus bisa diturunkan dengan disiplin yang baik. Kalau ini bisa dilakukan, aktivitas kita tidak usah sampai ditutup sebab ini berdampak pada aktivitas ekonomi secara keseluruhan,” kata Purbaya dalam Webinar Economic Outlook 2021. (Put/Ssr/Try/X-8)

BERITA TERKAIT