18 November 2020, 23:01 WIB

Dalam Kecakapan Bahasa Inggris, Indonesia di Urutan 74 Dunia


Eni Kartinah | Humaniora

Ist
 Ist
Para siswa sedang belajar di sekolah. Kecakapan bahasa Inggris orang Indonesia masih rendah jika dibandingkan negara ASEAN lainnya. 

SEBAGAI bahasa internasonal, kecakapan bahasa Inggris sangat penting dengan komunikasi dunia yang semakin tanpa sekat batas ini. Sejauh mana kecakapan bahasa Inggris orang Indonesia dan orang-orang di kawasan Asia lainnya? 

Untuk mengetahui hal tersebut, EF Education First merilis EF English Proficiency Index (EF EPI) edisi tahun 2020, Rabu (18/11).Mereka menganalisis data 2,2 juta orang bukan penutur asli bahasa Inggris dari 100 negara dan wilayah.

EF EPI menggunakan nilai tes dari EF Standard English Test (EF SET), tes bahasa Inggris standar yang tersedia secara gratis pertama di dunia. EF SET telah digunakan di berbagai negara oleh ribuan sekolah, perusahaan, dan pemerintah untuk tes berskala besar.

Dari nilai tes EF SET, mengungkapkan bahwa Belanda tetap menduduki posisi pertama, sedangkan Denmark dan Finlandia menyusul di posisi kedua dan ketiga.

Dr. Christopher McCormick, EF Executive Vice President for Academic Affairs menerangkan bahwa walaupun tahun 2020 dapat dianggap sebagai tahun yang penuh tantangan, situasi ini juga menyoroti pentingnya komunikasi yang jelas dan kerja sama lintas batas.

“Sebagai bahasa pengantar global, bahasa Inggris terus menyatukan manusia dari berbagai negara, dan EF EPI memuat wawasan berharga bagi para pembuat kebijakan dalam mengevaluasi dan memperkuat kemampuan pembelajaran bahasa bagi organisasi maupun pemerintah,” katanya dalam webinar EF English Proficiency Index secara daring via Zoom, Rabu (18/11).

Menurut Christopher, EF EPI 2020 kali ini ditemukan bahwa dampak penggunaan bahasa Inggris dalam berjejaring tidak pernah sebesar ini. Semakin banyak orang yang bertutur dalam bahasa Inggris, maka semakin bermanfaat pula bahasa Inggris bagi individu, bisnis, maupun negara untuk dapat mengakses sumber daya dan peluang.

“Meskipun kecakapan bahasa Inggris Eropa secara konsisten kuat, kecakapan 27 dari 33 negara di benua tersebut mengalami peningkatan sejak tahun lalu. Kecakapan bahasa Inggris Rusia telah membaik sehingga negara ini kembali masuk ke dalam kelompok kecakapan Sedang, setelah tahun lalu sempat merosot ke kelompok kecakapan Rendah,” sambungnya.

Sementara itu, di seluruh dunia, orang-orang berusia 26–30 tahun memiliki kecakapan bahasa Inggris tertinggi, namun orang dewasa yang berusia di atas 40 tahun memperoleh nilai lebih baik jika dibandingkan dengan orang-orang berusia 18–20 tahun.

"Hal ini menegaskan perlu peran universitas dan tempat bekerja dalam mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris," ujar Christopher. 

Bagaimana dengan di kawasan Asia ? Christopher menjelaskan bahwa kesenjangan terbesar antara peraih nilai tertinggi dan terendah, dari seluruh kawasan, terdapat di Asia. "Tetapi Tiongkok terus memperlihatkan peningkatan, sementara India menurun dari kecakapan sedang ke rendah," jelasnya.

Di sisi lain, tren peningkatan Amerika Latin terus berlanjut, walaupun Meksiko mengalami penurunan yang signifikan. Sebaliknya, rata-rata keseluruhan Afrika meningkat secara signifikan, tetapi kesenjangan antara negara dengan kecakapan tinggi dan negara dengan kecakapan rendah tetap lebar.

"Sebagian besar negara di benua ini masih belum memiliki data tes Bahasa Inggris yang dapat dimasukkan ke dalam EF EPI," kata Christopher.

Dari daftar 100 negara yang masuk kualifikasi EF EPI, Indonesia hanya berada di urutan 74, Vietnam (65), Kamboja (84), Myanmar (93) sebagai negara Asia Tenggara dengan kemampuan bahasa Inggris yang belum kuat. Indonesia jauh ditinggalkan Malaysia (30), Filipina (27), dan Singapura di urutan 10 sebagai juara pertama Asia secara keseluruhan.(Nik/OL-09)

BERITA TERKAIT